Hai…selamat datang!

Perjalanan hidup setiap manusia di dunia ini tidak pernah sama. Demikian juga halnya dengan bagaimana setiap manusia itu memberi makna atas perjalanan hidupnya. Blog ini merupakan refleksi pribadi atas apa yang saya lihat, dengar, pikirkan, dan alami sehari-hari. Tulisan-tulisan dalam blog ini juga dibuat dengan jujur dan apa adanya. Tujuan dari blog ini semata-mata ingin menunjukkan bahwa hidup ini sungguh mempunyai makna, dan itu tergantung bagaimana kita memaknainya.

Senin, 27 September 2010

Tolong, jangan puji saya!

Siapa di antara kita yang tidak senang dipuji? Rasanya hampir semua orang senang dipuji. Saya jadi teringat ketika saya masih duduk di bangku SD dulu, ibu guru selalu mengingatkan kami untuk melakukan perbuatan yang terpuji. Apa sih arti perbuatan terpuji itu? kurang lebih artinya adalah perbuatan yang baik, yang bermanfaat untuk diri sendiri dan (terutama) untuk orang lain. Lalu, kenapa disebut "terpuji"? Saya rasa ini ada hubungannya dengan ganjaran/upah dari perbuatan baik itu sendiri, yaitu ada orang-orang lain yang melihat/merasakan perbuatan baik itu, lalu bereaksi dengan cara "memuji" si pelaku perbuatan itu.

Kembali ke soal puji-memuji, saya juga termasuk orang yang senang mendapat pujian. Beberapa hari yang lalu ada dua orang sahabat saya (kami sama-sama bersekolah di SMU RP Bogor) yang memberikan pujian atas tulisan-tulisan saya di blog ini. Menurut mereka, tulisan-tulisan di blog ini sifatnya praktis, sederhana dan inspiratif (itulah yang kira-kira ditulis oleh mereka di wall FB saya). Wah, senang sekali rasanya dipuji seperti itu! (Thank you, Eric and Nadia!). "Ngga nyangka, ada yang menyukai tulisan-tulisan gw!" kata saya dalam hati.

Tapi tunggu dulu! Jangan puji saya lagi! Tiba-tiba saya menyadari sesuatu yang amat penting, sekaligus berbahaya! Apa itu? Saya sadar kalau ego saya ternyata perlahan-lahan mulai mengambil alih perasaan saya. Akibatnya, saya mulai sombong! nge-sok! Belagu! Ini tidak boleh dibiarkan terus!

Pujian yang diberikan oleh orang lain (sebagai ganjaran/upah) dari perbuatan baik kita seharusnya menjadi pendorong kita untuk melanjutkan (bahkan meningkatkan) kualitas dan kuantitas karya kita. Masalahnya terletak pada ego kita. Ego-lah yang sering membuat kita terbuai dalam pujian dan akhirnya malah menghentikan daya kreatif kita untuk menghasilkan karya-karya selanjutnya. 

Dalam kasus saya, ego sayalah yang mulai menunjukkan tanda-tanda akan bermasalah (baca: gejala sombong, dll) karena mendapatkan pujian dari kedua orang sahabat saya itu. Saya rasa, dengan tidak mengurangi rasa terima kasih saya kepada kedua sahabat saya itu, lebih baik pujian itu diberikan kepada DIA yang menciptakan saya, yang memberikan saya kemampuan untuk menulis. Saya hanya manusia biasa yang cenderung sombong apabila mendapat pujian; jadi, tolong, jangan puji saya!

Kamis, 23 September 2010

Baru saja selesai didoakan...

Penahkah kita berdoa kepada Tuhan untuk memohon sesuatu hal dan jawabannya langsung kita dapatkan? Kalau jawabannya sesuai dengan permohonan kita, pasti kita merasa amat senang (dan mudah-mudahan kita tidak lupa untuk juga segera berterima kasih kepada Tuhan atas hal itu). Akan tetapi, pernahkah ketika kita juga berdoa memohon sesuatu (dan jawabannya juga segera kita dapatkan) tapi jawabannya ternyata berbanding terbalik 180 derajat dari yang kita mohonkan? Bagaimana perasaan kita?

Kejadian itu baru saja saya alami kemarin malam. Seperti biasa, sebelum kami semua beranjak tidur, saya dan beberapa anggota keluarga kami mengadakan doa malam bersama. Kami telah menyiapkan satu ruangan di lantai atas sebagai tempat kami berdoa. 

Sebelum salah seorang dari kami memimpin doa, masing-masing dari kami mengungkapkan pokok-pokok doa yang ingin didoakan, baik itu untuk diri sendiri, maupun doa untuk orang lain. Ketika semua orang sudah mengungkapkan pokok doanya, mulailah pemimpin doa mendoakan pokok-pokok doa itu. Kami pun mengikuti dan mendukung doa itu di dalam hati.


Ketika semua pokok doa kami sudah didoakan, ternyata pemimpin doa kami itu menambahkan satu pokok doa lagi: isinya mendoakan rumah tangga kedua saudara kami yang memang tinggal serumah dengan kami (tapi tidak sedang ikut berdoa dengan kami). Isinya memohon agar rumah tangga mereka selalu dilimpahi damai sejahtera Tuhan dan mereka diberkati Tuhan dalam pekerjaannya.


Alangkah terkejutnya kami, ketika pemimpin doa mengucapkan kata: "Amin!", terdengar suara dari bawah, yang meskipun tidak keras, tapi kami semua bisa membuat gambarnya di dalam pikiran kami: kedua saudara kami itu sedang bertengkar! Kami tidak tahu persis apa yang sedang mereka pertengkarkan, tapi yang jelas, kami mendengar salah seorang dari mereka masuk ke dalam kamar, meninggalkan pasangannya, dan langsung mengunci pintu.

Saya melihat wajah-wajah yang tampak kecewa dengan apa yang terjadi: baru saja kami mendoakan mereka supaya rumah tangga mereka diberkati dalam damai sejahtera Tuhan, tapi tidak sampai sedetik kami selesai berdoa, kami mendapati kenyataan bahwa mereka sedang bertengkar. Di tengah-tengah suasana yang sempat mencekam itu (karena kami semua serempak tidak bersuara selama beberapa saat lamanya), saya mengajak agar yang lain tidak larut dalam kekecewaan, dan tetap yakin bahwa Tuhan sedang dan terus bekerja mendatangkan damai sejahtera-Nya atas rumah tangga kedua saudara kami itu.


Dalam perenungan saya akan peristiwa semalam itu, saya menemukan kalau Tuhan adalah Allah yang berdaulat penuh atas kehidupan kita, dan kita tidak perlu meragukan betapa Ia sangat mengasihi kita, meskipun jawaban doa kita ternyata berbeda 180 derajat dari yang kita harapkan. Saya juga tahu dan yakin bahwa dalam keadaan apa pun dalam hidup kita, Tuhan yang berdaulat itu sedang dan terus mengajar kita untuk tetap setia (percaya) dan berdoa kepada-Nya.

Selasa, 21 September 2010

Setelah libur panjang: memulai kembali...

Liburan panjang sudah selesai, dan sekarang waktunya untuk kebanyakan orang memulai kembali rutinitasnya: belajar, bekerja, dll. Setelah beberapa waktu lamanya kita tidak melakukan kegiatan yang biasa kita lakukan sehari-hari, tentu kita butuh semacam "pemanasan" sebelum kita bisa mencapai kinerja kita seperti waktu sebelum liburan. Setiap orang pun punya gaya/cara masing-masing dalam rangka "pemanasan" itu, tapi bagi saya pribadi, caranya hanya 1: LAKUKAN!

Sebagai contoh, setelah terbiasa tidur lebih malam di waktu liburan dan bisa bangun lebih siang keesokan harinya, cara saya agar bisa kembali kepada pola bangun pagi (untuk persiapan berangkat kerja) adalah memasang alaram handphone dan (lakukan) BANGUN! 

Contoh lain, setelah cukup lama tidak menulis di blog ini selama liburan (sampai-sampai salah seorang saudara saya bertanya: "Kayaknya udah lama kau ngga nulis di blog lagi ya?"), maka cara saya agar bisa kembali aktif menulis adalah (seperti yang sedang saya lakukan saat ini:) TULIS!

Membiasakan diri untuk berdisiplin dalam segala hal yang kita lakukan memang mempunyai banyak tantangan. Rasa malas, bosan, atau jenuh sering kali seperti menjadi jalan mendaki yang melelahkan untuk kita tempuh. Akan tetapi, disiplin lebih banyak memberikan kita manfaat apabila kita melakukannya. Nah, berhubung libur panjang sudah selesai dan the show must go on, mari kita mulai kembali segala aktivitas keseharian kita dengan disiplin: LAKUKAN!