Hai…selamat datang!

Perjalanan hidup setiap manusia di dunia ini tidak pernah sama. Demikian juga halnya dengan bagaimana setiap manusia itu memberi makna atas perjalanan hidupnya. Blog ini merupakan refleksi pribadi atas apa yang saya lihat, dengar, pikirkan, dan alami sehari-hari. Tulisan-tulisan dalam blog ini juga dibuat dengan jujur dan apa adanya. Tujuan dari blog ini semata-mata ingin menunjukkan bahwa hidup ini sungguh mempunyai makna, dan itu tergantung bagaimana kita memaknainya.

Minggu, 22 Agustus 2010

Bahkan si munafik pun Ikut Bernyanyi di Gereja

"Ya ampun!", mataku pun terbelalak melihat pemandangan di depanku. "Bukankah orang itu beberapa hari yang lalu secara terang-terangan sudah menunjukkan sikapnya yang merendahkan kami?", "Sekarang ia ikut berdiri di deretan paling depan para penyanyi paduan suara yang sebentar lagi akan bernyanyi itu." "Sungguh munafik!", teriakku dalam hati sambil terus kupandangi sosok orang itu dari jauh (karena kebetulan aku duduk agak di samping belakang pada ibadah Minggu itu).

Sesaat lamanya pikiranku dipenuhi dengan rasa kaget, sekaligus marah dan gemas. "Kenapa orang seperti ini KAU biarkan ikut bernyanyi lagu-lagu pujian untuk-Mu, Tuhan? Tidakkah KAU tahu apa yang baru saja diperbuat orang itu kepada kami?" Tidak lama kemudian mulai terdengarlah lagu yang dinaikkan oleh paduan suara itu. Dengan bersusah payah (karena sedang kesal) kucoba untuk memusatkan perhatianku mendengar lirik lagu itu. Tidak semua lirik dapat kutangkap, tapi paling tidak sedikit banyak aku tahu tentang apa lagu itu: "kasih setia Tuhan."  

"Bagaimana mungkin orang itu dapat menyanyikan lagu tentang kasih setia Tuhan kalau ia sendiri tidak memberlakukan kasih itu kepada sesamanya?", kulanjutkan lamunanku. "Kok bisa-bisanya orang yang berhati jahat itu mengucapkan bait demi bait lagu pujian dengan bibirnya untuk Tuhan?" "Ah, tidak benar ini!", aku pun merasa sangat gusar mengikuti kelanjutan jalannya ibadah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, sembari masih memikirkan kejadian di gereja tadi, tiba-tiba aku menyadari sesuatu yang mengejutkan! Seakan-akan ada satu suara yang berbisik di dalam benakku yang akhirnya membuka kesadaranku: BUKANKAH TERKADANG AKU JUGA SUKA BERBUAT DEMIKIAN?

Astaga! Tiba-tiba saja perasaan marah dan gemasku hilang seketika. Langkahku melambat karena lututku terasa sedikit lemas. Kenapa aku protes kepada Tuhan tentang orang yang menurutku berhati jahat tapi masih bisa bernyanyi pujian tentang-Nya, sementara terkadang pun aku suka berada di posisinya? Bukankah terkadang aku juga datang ke rumah Tuhan, memuji-muji nama-Nya, tapi hatiku sendiri masih dipenuhi dengan berbagai macam kejahatan? Bukankah itu namanya aku juga "bermuka dua" di hadapan-Nya? Aku toh tidak lebih baik daripada orang itu! Aku toh tidak lebih suci hatinya daripada orang itu! Kebenaran ini pun seakan "menampar" mukaku!

Sembari berjalan tertunduk, kunaikkan doa ini kepada Tuhan: "Maafkan aku, Tuhan, karena aku sudah merasa lebih baik, lebih benar untuk datang ke rumah-Mu dan memuji nama-Mu. Sebagaimana Engkau mengizinkan semua orang, entah baik ataupun jahat orang itu, untuk datang ke rumah-Mu, ajarku untuk mengoreksi hatiku agar aku tidak lekas menghakimi orang lain sebelum kuhakimi terlebih dulu hatiku."

Jumat, 20 Agustus 2010

Kok lemas? percaya kan? sabar ya!

Manusia pada umumnya akan bereaksi sesuai dengan yang dirasakannya. Biasanya kita akan menggebu-gebu semangatnya kalau sedang mengharapkan sesuatu yang baik menurut kita. Dan (biasanya juga) kita akan terlihat tidak bersemangat kalau ternyata kenyataan yang terjadi itu tidak sesuai harapan kita. 

Itulah yang saya alami pagi ini. Dalam suatu urusan, secara tidak sengaja saya memperlihatkan raut dan bahasa tubuh yang tidak bersemangat. Dan itu "tertangkap" mata oleh rekan saya. "Kok lemas?" kata rekan saya itu mengejutkan saya. Ternyata ekspresi saya cukup jelas terlihat olehnya. Saya pun menjawabnya, "Iyalah, habis hasilnya ga sesuai harapan." Rekan saya itu pun hanya tersenyum mendengar jawaban saya.

Saya pun merenungkan arti senyum saudara saya itu. Pikiran saya kembali ke malam kemarin. Kemarin saya dikunjungi oleh tiga orang saudara saya. Dalam percakapan, kami membicarakan urusan saya esok harinya (pagi ini). Salah seorang saudara saya berkata kurang lebih seperti ini: "Sabar saja. Kalau kita tulus hati dan bersandar pada kasih setia Tuhan, maka meskipun jalan yang kita lalui sepertinya tidak sesuai dengan harapan kita saat ini, tapi kita akan segera menemui keadilan Tuhan pada akhir perjalanan kita!" 

Kembali pada senyum saudara saya di pagi ini ketika ia melihat ekspresi saya yang agak lemas, saya seperti diingatkan oleh Tuhan sendiri yang sambil tersenyum seakan berkata pada saya, "Kok lemas? percaya kan? sabar ya!" Wah, seketika itu juga hilang lemas saya, ganti dengan semangat yang baru! Senyum lagi ah! 

Rabu, 18 Agustus 2010

Kenal...tegur? Lengos aja...

Di mana-mana kalau orang sudah kenal, maka sewajarnya kalau bertemu akan saling bertegur sapa. Akan tetapi kejadian hari ini membuktikan kebalikannya: sudah kenal, bertemu, tapi (me)lengos aja...Lucu memang, tapi selidik punya selidik, ternyata alasannya hanya gara-gara UANG!

Hmm....bicara soal "uang" memang tidak ada habisnya. Sebagian orang berkata kalau uang hanyalah alat manusia untuk mencapai tujuan hidup yang lebih luhur dan mulia; tapi kenyataannya ternyata banyak juga orang yang secara sadar/tidak sadar sudah diperalat oleh uang dalam hidupnya. Orang-orang pada bagian ini sering tidak sadar bahwa mereka sudah menjadikan uang sebagai tujuan hidupnya; akibatnya, banyak hal yang lebih penting dan luhur yang menjadi korban, seperti misalnya: hubungan kekerabatan!

Coba bayangkan adegan yang terekam di kepala saya hari ini: kedua orang ini sudah saling mengenal sejak tahunan yang lalu. Lalu karena suatu kejadian baru-baru ini yang melibatkan "uang", maka kedua orang ini secara sadar/tidak sadar sudah mengorbankan hubungan kekerabatan mereka selama ini. Dalam satu kesempatan saling berpapasan, maka kedua orang ini sepakat untuk saling membuang jauh-jauh pandangan mereka! Boro-boro menegur, bertatap mata saja tidak. Dan semua itu karena "uang." Jadilah rumus matematika yang buruk ini: Uang = kenal...tegur? Lengos aja...



Senin, 16 Agustus 2010

Ditolong untuk menolong (lagi)

Dalam hidup ini tentu kita pernah merasakan saat-saat di mana kita membutuhkan pertolongan, bukan? Dan tentu ketika kita mendapat mendapat pertolongan itu, kita merasa senang dan lega karena beban kita (paling tidak) berkurang atau bahkan tidak ada lagi. Lalu apa yang kita lakukan setelah kita mendapat pertolongan itu? Berterima kasih sepertinya sudah sewajarnya kita ungkapkan kepada sang penolong kita. Cukupkah sampai di situ? Dalam beberapa kasus ya; tapi tidak demikian dengan yang saya alami kemarin malam.

Semalam itu saya merasa badan saya kurang enak. Kepala rasanya berat untuk diangkat, sementara perut terasa kembung. Saya juga merasa sedikit mual. Akhirnya sekitar pukul 8 saya memutuskan untuk merebahkan badan dan memejamkan mata. Saya memang tidak berencana untuk terlelap sampai pagi, karena saya belum menyiapkan keperluan saya untuk bekerja keesokan harinya. Jadilah mata saya terpejam untuk beberapa saat lamanya, kurang lebih sekitar 1 jam. Saya terbangun ketika pintu kamar saya diketuk ternyata saudara saya meminta waktu saya untuk berbicara dengannya.

Saya pikir, "Wah, ada apa nih? Sepertinya yang mau dibicarakan itu serius." Setelah saya mencuci muka, saya menemuinya di ruang tengah. Benar dugaan saya. Saudara saya itu menceritakan masalah yang dihadapinya. Saya pun mendengarkan setiap perkataannya dengan serius. Masalahnya sebenarnya tidak rumit, tapi karena emosi yang sudah bermain maka sepertinya tidak ada jalan keluar yang bisa dicari. Setelah beberapa lama saudara saya bercerita masalahnya, giliran saya memberikan masukan kepadanya. Saya berusaha membantunya untuk memisahkan antara emosi yang sudah bermain dan persoalan yang sebenarnya. 

Waktu terus berjalan, dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Merasa tidak enak karena pembicaraan kami terlalu panjang (saudara saya ini tahu kalau saya sudah harus bangun lagi pukul 4.30 untuk mempersiapkan diri berangkat ke kantor), saudara saya ini meminta maaf dan sekaligus berterima kasih. Sambil tersenyum saya hanya berkata, "Ngga apa-apa. Senang kok bisa membantu!" Saya pun beranjak dari ruang tengah dan kembali ke kamar.

Sebelum kembali tidur (setelah memasang alarm di handphone pukul 4.15--hari Senin itu saya harus lebih awal bangun karena entah mengapa lalu-lintas lebih padat dari hari-hari biasanya), saya baru sadar kalau ternyata badan saya sudah terasa jauh lebih enak! Selama kurang lebih 4 jam kami berbicara tadi itu ternyata saya sudah tidak lagi merasakan kembung dan mual, juga kepala yang (tadinya) terasa berat! Wah, ternyata saya sudah ditolong oleh Tuhan! Jadi, ketika saya menolong saudara saya mengatasi masalahnya, sebenarnya saya sudah terlebih dulu mendapat pertolongan itu! Thank you, God! 

Rupanya Tuhan menolong saya (memulihkan kondisi badan saya yang kurang enak) agar saya bisa menolong lagi (saudara saya dengan masalahnya). Hmm...saya pun membaringkan diri dan memejamkan mata sembari tersenyum puas!  

Jumat, 13 Agustus 2010

Arti hidup: Mengenang Alm. Ecclesia Enelia Idauli Napitupulu

Pernahkah kita mengambil waktu untuk merenungkan apa arti hidup kita? Apakah hidup ini kita pakai untuk keegoisan kita sendiri? Atau sudahkah hidup ini kita pakai untuk memberi dampak bagi orang-orang di sekitar kita? Tulisan ini saya buat sebagai sebentuk tanda cinta melepas kepergian seorang kakak, saudara yang ternyata telah meninggalkan bekas yang amat dalam buat saya.

Adalah seorang Ecclesia Enelia Idauli Napitupulu, biasanya saya memanggilnya dengan sebutan "Kak Dede." Kak Dede ini orangnya sangat keras dengan pendiriannya. Saya salut dengan kesediaannya untuk menanggung risiko dari pilihan-pilihan yang diambil olehnya semasa hidupnya. "Itu kan hidupmu, Ul. Kalau aku jadi kau, aku akan tegaskan prinsip hidupku, sekalipun prinsipku itu harus bertentangan dengan keinginan orangtuaku" Saya ingat sekali komentar kak Dede ini sewaktu dulu pada satu kesempatan saya curhat dengannya tentang masalah saya dengan ibu saya.
Kak Dede juga seorang yang sangat teliti dengan barang-barang miliknya. Pernah satu waktu saya menginap di rumahnya di kompleks perumahan rumah sakit di Tarutung; ketika itu kak Dede masak beberapa potong tempe goreng dan ia meletakkannya di atas piring di atas meja makan. Karena saya lapar, saya ambil sepotong tempe itu tanpa sepengetahuan dia. Eh, ternyata ketika ia kembali meletakkan makanan lain di atas meja makan itu, kak Dede "berteriak": Hei, siapa ini yang makan tempe? Sambil tersenyum malu, saya pun mengaku bersalah kepadanya! =) Luar biasa telitinya kakakku ini!

Yang terakhir tentang kak Dede adalah soal kepeduliannya kepada orang-orang di dekatnya. Meskipun gaya bicaranya ceplas-ceplos dan terkesan cuek, tapi sebenarnya kak Dede adalah seorang yang sangat peduli dengan keadaan orang-orang di dekatnya. "Gimana kabar sidang mama, Ul?", "Inangtua sudah sampai di sanakah?", "Kok sombong kau sekarang ya, ga ada kabar-kabarnya!" "Ada berita apa nih?" Itulah sebagian dari cara kak Dede untuk menunjukkan sebenarnya ia sangat peduli dengan keadaan orang-orang dekatnya. Bahkan di saat dirinya hamil besar sekalipun, kak Dede masih mau naik angkot untuk membesuk ibu saya yang sedang kena masalah waktu itu. Benar-benar ia menunjukkan perhatian dan kepeduliannya!

Rasa sayangnya terhadap Marceleo (kami panggil dia dengan ACEL), putra sulungnya yang berusia 3 tahun tidak usah dipertanyakan lagi. Bagi saya, kak Dede sudah menunjukkan betapa ia adalah seorang ibu yang terbaik untuk Acel. Dalam kondisi yang sulit sekalipun, kak Dede tetap mengurus dan merawat Acel sebaik-baiknya. You are really a great mother, kak!

Sekarang kak Dede sudah tiada. Tuhan sudah menjemputnya dalam usianya yang masih muda (36 tahun). Kami semua sangat berduka atas kepergiannya yang begitu cepat. Apalagi kak Dede telah "menitipkan" anak perempuannya yang baru lahir itu kepada kami: Anabel Tamaro (Tama do Ro; arti: waktu yang tepat datangnya). 

Selamat jalan kakakku tersayang! Kemarin siang aku ikut menghantarkan jasadmu ke tempat pemakaman. Kami semua sangat kehilangan dan merindukanmu. Kami rindu gayamu, keras kepalamu, cara bercandamu, perhatian dan kepedulianmu, sikap telitimu, semua yang sudah kau tunjukkan kepada kami semasa hidupmu. Selamat jalan kak Dede! Tugasmu sudah selesai di dunia ini; singkat saja waktu hidupmu, tapi arti hidupmu sangat besar bagi kami yang dekat denganmu! Kiranya Tuhan Yesus memberimu damai sejahtera yang abadi bersama-Nya di surga!

Dari adikmu yang sangat mengasihimu, 

Paul

Selasa, 10 Agustus 2010

Hukum yang buta pada keadilan: kuasa uang dan kekuatan

Hukum seharusnya berlaku adil dengan menganjar si pelanggar hukum itu. Namun, kenyataannya bisa tidak demikian. Hukum ternyata juga bisa menutup mata dari keadilan apabila hukum itu sudah jatuh kepada kuasa uang dan kekuatan.

Seorang ibu diseret ke meja hijau karena dituduh melakukan penipuan/penggelapan. Ilustrasi kisahnya seperti ini: A mengenalkan B kepada C. Lalu B dan C menjalin hubungan dan mereka pun sepakat menikah. Ternyata, selang beberapa lama kemudian B tidak setia kepada C dan ia pun menghilang entah kemana. Mungkinkah C menuntut biaya ganti rugi pernikahannya kepada A, semata-mata karena A yang telah mengenalkan B (yang ternyata tidak setia itu) kepada dirinya? Coba dijawab sendiri!

Itulah yang terjadi dengan ibu tadi. Ia mengenalkan teman lamanya kepada rekan satu perkumpulannya. Terjadilah kesepakatan bisnis (peminjaman uang) di antara kedua orang itu. Ternyata orang yang meminjam uang itu melarikan diri dari kewajibannya untuk membayar. Bukti peminjaman uang masih ada di tangan si pemberi pinjaman. Di sana jelas tertulis dan tertandatangani bahwa yang meminjam uang adalah orang yang kabur tadi (bukan si ibu yang mengenalkan itu). Seharusnya si pemberi pinjaman melaporkan orang yang kabur itu kepada pihak berwajib, tapi anehnya, ia justru melaporkan si ibu yang mengenalkan orang itu kepadanya atas tuduhan penipuan/penggelapan. Lebih parah lagi, si pemberi pinjaman malah mengumpulkan beberapa orang lain untuk bersaksi (palsu) bahwa ibu yang mengenalkan pertama tadilah yang meminjam uangnya (meski tidak ada satu pun tanda tangan ibu itu di tanda bukti peminjamannya).Dengan kekuatan dana dan koneksinya, mudah bagi si pemberi pinjaman itu untuk menyeret ibu yang mengenalkan pertama itu ke dalam perkara ini. Lalu bagaimana dengan orang yang melarikan uang itu? Tampaknya ia akan aman-aman saja, karena sepertinya tidak ada upaya dari si pemberi pinjaman untuk mengejarnya. Nah, kenapa si pemberi pinjaman tidak mengejarnya? Tidak ada yang tahu sampai saat ini, kecuali si pemberi pinjaman itu sendiri.

Sungguh tragis, karena pada akhirnya saat ini si ibu yang hanya mengenalkan orang yang (ternyata) jahat itu harus berhadapan dengan hukum. Ibu ini sekarang harus menanggung akibat dari perbuatan jahat yang sama sekali tidak ia lakukan. Bagaimana akhirnya? Belum terjawab sampai hari ini (karena persidangan masih berlanjut). Inilah hukum yang sudah buta kepada keadilan!

Minggu, 08 Agustus 2010

Sudah layakkah (kita) datang ke rumah Tuhan?

Kejadiannya pagi ini. Kami sudah siap untuk berangkat beribadah. Hari ini ibadah mengambil tema nuansa daerah Nusa Tenggara Timur. Kami pun mengenakan aksesori syal dengan motif tenun NTT. Seperti biasa, sebelum berangkat kami berdoa, "Tuhan, sebentar lagi kami akan datang ke rumah-Mu. Layakkanlah kami agar boleh datang beribadah. Sertailah kami, Tuhan. Amin." Jam ketika itu menunjukkan pukul 9 lewat 5 menit; artinya, kami masih punya waktu kurang dari 25 menit untuk sampai di gereja. Selesai berdoa, kami bergegas keluar rumah dan berjalan sampai ke simpangan untuk menunggu angkutan umum.

Seperti biasa di setiap hari Minggu, sebagian ruas jalan utama yang menuju gereja ditutup untuk memberi kesempatan kepada para pejalan kaki untuk berolahraga dan bersepeda. Waktunya dari jam 7-9 pagi. Berdasarkan perhitungan bahwa kendaraan pada saat ini (pukul 9 lewat 5 menit) sudah diperbolehkan melalui ruas jalan utama, maka kami berpikir kalau kami masih sempat tiba di gereja sekitar 5 menit sebelum ibadah dimulai. Kami pun memberhentikan satu kendaraan umum yang melintas dan kami naik ke dalamnya.

Perjalanan cukup lancar meski kami harus melewati kawasan terminal yang biasanya cukup menghabiskan waktu (karena banyak angkutan umum yang ngetem untuk mencari penumpang). "Wah, kalau lancar di sini, artinya kita bisa sampai lebih cepat di gereja!" pikirku.

Namun apa yang terjadi? Ketika kendaraan umum yang kami tumpangi mendekati ruas jalan utama menuju gereja, tampak beberapa orang petugas polisi mengalihkan lalu-lintas menuju jalan lain. "Ya ampun! Sudah jam 9.15 kok belum dibuka juga jalannya!" sontak aku berkata begitu. Alhasil arus lalu-lintas dialihkan ke jalan lain, dan itu artinya kami tidak akan bisa sampai tepat waktu!

Dalam antrian kendaraan yang cukup panjang (karena semua arus masih dialihkan ke jalan yang lain ini), kami berdiskusi di dalam kendaraan umum. Akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan kami ke gereja dan memilih untuk kembali ke rumah. "Nanti sore saja kita ke gereja yang ibadah jam 5." Itulah keputusan yang kami sepakati.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku berpikir dalam hati. Bukankah tadi sebelum berangkat kami berdoa, "Layakkanlah kami agar boleh datang beribadah"? Kenyataannya kami "terpaksa" harus kembali ke rumah karena kejadian yang tidak biasanya telah menghambat perjalanan kami untuk beribadah.

"Apakah kejadian ini artinya kami belum layak, belum siap untuk datang beribadah, Tuhan?" itulah yang menjadi pertanyaanku dalam hati. Jangan-jangan kami hanya sibuk mempersiapkan aksesori pakaian kami untuk beribadah, ketimbang kami mempersiapkan hati dan pikiran untuk menghadap-Nya, dan IA memberikan kesempatan kepada kami untuk kembali pulang dan memikirkan kembali kesungguhan dan kesiapan kami untuk beribadah di rumah-Nya. 


 

Jumat, 06 Agustus 2010

Menjadi sahabat untuk orang lain

Apa sih arti kata "sahabat"? Apakah sahabat itu memiliki kedekatan yang lebih dari teman/kawan? Saya tidak tahu jawabannya. Akan tetapi yang saya tahu pasti, hari ini saya bisa merasakan indahnya perasaan ketika kita berada di antara orang-orang yang bersahabat dengan kita.

Pagi ini waktu saya sedang menunggu angkutan bis menuju kantor, secara kebetulan saya bertemu dengan seorang sahabat saya yang lewat di jalan itu dengan kendaraannya. Alhasil saya bisa ikut menumpang sampai ke kantor (kebetulan kantor kami juga sama). Lalu di kantor, entah karena sarapan tadi pagi kurang porsinya, atau karena saya yang semalam kurang tidur, sehingga saya merasa perut saya sedikit "rewel" minta diisi, saya terpikir untuk membeli makanan di kantin kantor. Namun, lagi-lagi saya mengalami "kebaikan sahabat". Sebelum saya melangkah ke kantin, tiba-tiba lagi seorang sahabat saya yang lain di kantor berkata, "Eh, mau donat, ga? Gw bawa dari rumah. Kalau mau ke ruangan gw aja!" Tanpa berpikir dua kali, saya mengatakan, "Mau dong! Kebetulan gw lagi laper nih sekarang! Trims ya!" 

Apakah saya memanfaatkan kebaikan hati kedua orang sahabat saya itu untuk kepentingan saya sendiri? Bisa saja ada yang berpendapat demikian, karena toh saya yang "diuntungkan" dari kebaikan hati kedua sahabat saya itu. Akan tetapi, apa hanya berhenti di situ? Saya hanya mau "untung" sendiri terus? Sepertinya tidak ya. Tentu saya juga mau memberikan kebaikan kepada orang-orang di sekeliling saya, bukan untuk maksud apa-apa, tapi lebih karena saya sudah merasakan lebih dulu indahnya berada di antara orang-orang yang baik hati, yang kita sebut dengan "sahabat" itu!

Kamis, 05 Agustus 2010

Sumpah (palsu): beranikah?

"Kok bisa-bisanya orang itu bilang: Demi nama Tuhan Yesus saya berkata yang sesungguhnya!", itulah pikiran saya sewaktu mendengar kesaksiannya di ruang sidang (Rabu, 4 Agustus 2010). Bukankah cerita yang disampaikannya kepada majelis hakim itu penuh dengan rekayasa dan manipulasi? Belum lagi dengan adegan suara yang terbata-bata dan adegan menyeka air mata yang ditunjukkannya kepada semua yang hadir? Luar biasa! 

Jujur saya katakan kalau saya sendiri pun bukanlah orang yang jujur. Saya sering berkata bohong untuk menutupi kesalahan saya, demi menghindari konsekuensi yang mungkin saya dapatkan dari kesalahan saya itu. Tapi bagaimana kalau kita sampai membawa-bawa nama Tuhan untuk "membenarkan perbuatan salah kita"? Ini yang saya tidak habis pikir. Apakah sumpah itu sudah kehilangan maknanya? Hanya sekadar kata-kata untuk menguatkan pernyataan kita, tanpa ada risiko sama sekali ketika kita menyalahgunakannya? Bagaimana dengan Tuhan yang sudah kita seret dalam kebohongan kita? Apakah DIA tidak akan bertindak dengan kelakuan kita itu?  

Hmm....saya tidak tahu; mungkin saat ini kita aman-aman saja. Mungkin tidak ada yang terjadi dengan diri kita waktu kita bersumpah (palsu) itu. Akan tetapi menurut saya, mungkin lebih baik mulai saat ini kita lebih berhati-hati dalam berkata-kata, karena kita tidak tahu kapankah kita menerima konsekuensi dari setiap perkataan (juga perbuatan) kita!