Kejadiannya pagi ini. Kami sudah siap untuk berangkat beribadah. Hari ini ibadah mengambil tema nuansa daerah Nusa Tenggara Timur. Kami pun mengenakan aksesori syal dengan motif tenun NTT. Seperti biasa, sebelum berangkat kami berdoa, "Tuhan, sebentar lagi kami akan datang ke rumah-Mu. Layakkanlah kami agar boleh datang beribadah. Sertailah kami, Tuhan. Amin." Jam ketika itu menunjukkan pukul 9 lewat 5 menit; artinya, kami masih punya waktu kurang dari 25 menit untuk sampai di gereja. Selesai berdoa, kami bergegas keluar rumah dan berjalan sampai ke simpangan untuk menunggu angkutan umum.
Seperti biasa di setiap hari Minggu, sebagian ruas jalan utama yang menuju gereja ditutup untuk memberi kesempatan kepada para pejalan kaki untuk berolahraga dan bersepeda. Waktunya dari jam 7-9 pagi. Berdasarkan perhitungan bahwa kendaraan pada saat ini (pukul 9 lewat 5 menit) sudah diperbolehkan melalui ruas jalan utama, maka kami berpikir kalau kami masih sempat tiba di gereja sekitar 5 menit sebelum ibadah dimulai. Kami pun memberhentikan satu kendaraan umum yang melintas dan kami naik ke dalamnya.Perjalanan cukup lancar meski kami harus melewati kawasan terminal yang biasanya cukup menghabiskan waktu (karena banyak angkutan umum yang ngetem untuk mencari penumpang). "Wah, kalau lancar di sini, artinya kita bisa sampai lebih cepat di gereja!" pikirku.
Namun apa yang terjadi? Ketika kendaraan umum yang kami tumpangi mendekati ruas jalan utama menuju gereja, tampak beberapa orang petugas polisi mengalihkan lalu-lintas menuju jalan lain. "Ya ampun! Sudah jam 9.15 kok belum dibuka juga jalannya!" sontak aku berkata begitu. Alhasil arus lalu-lintas dialihkan ke jalan lain, dan itu artinya kami tidak akan bisa sampai tepat waktu!
Dalam antrian kendaraan yang cukup panjang (karena semua arus masih dialihkan ke jalan yang lain ini), kami berdiskusi di dalam kendaraan umum. Akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan kami ke gereja dan memilih untuk kembali ke rumah. "Nanti sore saja kita ke gereja yang ibadah jam 5." Itulah keputusan yang kami sepakati.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku berpikir dalam hati. Bukankah tadi sebelum berangkat kami berdoa, "Layakkanlah kami agar boleh datang beribadah"? Kenyataannya kami "terpaksa" harus kembali ke rumah karena kejadian yang tidak biasanya telah menghambat perjalanan kami untuk beribadah.
"Apakah kejadian ini artinya kami belum layak, belum siap untuk datang beribadah, Tuhan?" itulah yang menjadi pertanyaanku dalam hati. Jangan-jangan kami hanya sibuk mempersiapkan aksesori pakaian kami untuk beribadah, ketimbang kami mempersiapkan hati dan pikiran untuk menghadap-Nya, dan IA memberikan kesempatan kepada kami untuk kembali pulang dan memikirkan kembali kesungguhan dan kesiapan kami untuk beribadah di rumah-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar