Hai…selamat datang!

Perjalanan hidup setiap manusia di dunia ini tidak pernah sama. Demikian juga halnya dengan bagaimana setiap manusia itu memberi makna atas perjalanan hidupnya. Blog ini merupakan refleksi pribadi atas apa yang saya lihat, dengar, pikirkan, dan alami sehari-hari. Tulisan-tulisan dalam blog ini juga dibuat dengan jujur dan apa adanya. Tujuan dari blog ini semata-mata ingin menunjukkan bahwa hidup ini sungguh mempunyai makna, dan itu tergantung bagaimana kita memaknainya.

Senin, 12 September 2011

Berapa kali berterima kasih hari ini?

"Berapa kali anda mengucapkan kata terima kasih kepada orang lain hari ini?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh pendeta dalam awal khotbahnya itu menyentak kesadaranku. Segera saja kulamunkan pikiranku pada setiap momen yang telah kujalani hari ini. Setelah beberapa saat, sampailah aku pada kesimpulan bahwa memang ternyata persoalan mengucapkan terima kasih memang persoalan yang gampang-gampang susah (setidaknya ini bagi diriku sendiri). Ia adalah persoalan yang gampang, karena tidak butuh waktu lebih dari 2 detik bagi mulut kita untuk mengucapkan kata "terima kasih," tapi ia sekaligus juga merupakan persoalan yang susah, karena untuk dapat mengucapkan kata itu, dibutuhkan kesadaran diri yang penuh setiap saat. 

Sering kita merasa bahwa segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita sehari-hari adalah hal yang biasa-biasa saja. Sarapan pagi yang sudah terhidang bagi kita di meja makan, tukang ojeg yang menjemput ke rumah dan mengantar kita sampai ke terminal, supir bis yang membawa kita sampai ke kantor, petugas kebersihan yang menyapu dan mengepel lantai ruangan kita, office boy yang mengantarkan surat penting untuk kita, petugas pantry yang menyiapkan makan siang kita, bisa jadi semua itu adalah hal yang "sudah menjadi biasa" bagi kita karena momen-momen itu berlangsung setiap hari dan berulang-ulang.

Di situlah pentingnya kesadaran diri yang penuh setiap saat, yaitu kesadaran bahwa segala sesuatu yang telah dilakukan oleh orang lain bagi kita, dan yang oleh karenanya kita mendapatkan kemudahan di dalam hal-hal tersebut, pantas dan perlu kita syukuri! Dan ungkapan "Terima kasih" menjadi ungkapan yang sederhana, namun tepat, untuk kita mensyukurinya!


Kesadaran diri yang penuh setiap saat ini tidak muncul dengan otomatis. Seperti slogan "practice makes perfect," kesadaran ini terasah dari hasil latihan setiap hari! Ketika kita hari ini ingat untuk minimal mengucapkan terima kasih kepada orang lain sebanyak satu kali, maka besok kita perlu menambah jumlahnya lebih dari satu kali, demikian seterusnya di hari-hari yang berikutnya, sampai kesadaran itu bisa muncul dengan sendirinya di pikiran kita.

Jadi, berapa kali berterima kasih hari ini?




 


 

Rabu, 09 Februari 2011

Membela Tuhan: perlukah?

Saya tergelitik untuk kembali menulis dalam blog ini (setelah sekian lama vakum) karena belakangan ini terjadi sebuah fenomena yang sangat memprihatinkan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Kekerasan dengan mengatasnamakan agama terjadi di beberapa tempat di Indonesia, negara kita yang (katanya) berasaskan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi satu jua) itu. Miris rasanya melihat ratusan orang melakukan berbagai tindakan perusakan dan penganiayaan kepada sesamanya, hanya karena adanya perbedaan penghayatan kepada Tuhan. Berbagai alasan untuk "membenarkan" tindak kekerasan ini pun terlontar ke permukaan, mulai dari alasan peraturan (SKB 3 Menteri), alasan provokasi (SMS), sampai kepada alasan yang paling tidak masuk akal: Membela Iman (baca: Tuhan!)

Pertanyaannya, apa memang benar kalau Tuhan itu perlu dibela? Siapakah manusia (sang ciptaan) yang pantas membela Tuhan (Sang Pencipta) itu sendiri? Coba kita pikirkan hal ini dengan lebih jernih. Kalau memang Tuhan itu perlu dibela oleh manusia, maka bukankah itu berarti manusia sudah "mengurangi" kadar kemahakuasaan Tuhan? (menurut pendapat saya, hanya pihak yang lemahlah yang perlu dibela). Atau yang lebih dalam lagi, apakah Tuhan memang ingin dibela oleh manusia? Terhadap siapa Tuhan ingin manusia membelanya? terhadap manusia lain juga (yang notabene adalah ciptaan-Nya juga?)

Saya pikir semua orang yang mengaku beragama perlu berhenti sejenak dan kembali kepada filosofi agamanya masing-masing. Agama pada dasarnya adalah cara manusia melihat kebesaran Tuhan dan kemudian menanggapi keberadaan-Nya. Bukankah manusia punya berbagai cara/sudut pandang yang tidak sama untuk melihat Tuhan? Dan rasanya filosofi berikut ada dalam setiap agama: Tuhan yang dihayati dalam setiap agama pasti tidak membenarkan manusia pengikut-Nya menyakiti sesamanya yang lain (entah dia punya penghayatan yang sama atau berbeda dengan dia). Kenapa demikian? Karena Tuhan adalah sumber segala kebaikan, kedamaian, cinta kasih yang tidak terbatas! Justru manusia-manusialah yang sering membalikkan kebaikan, merusak kedamaian, dan membatasi cinta kasih Tuhan sebagai pembenaran atas setiap tindakan jahat yang dilakukannya!

Bila memang demikian adanya, baiklah kita (bagaimanapun pengahayatan kita kepada Tuhan) menjawab dengan jujur pertanyaan tadi: "Membela Tuhan: perlukah?" 

Rabu, 08 Desember 2010

Arti 30: (bukan) Selamat Ulang Tahun....

Terima kasih, Tuhan! Hari ini (menurut Bunda, tepatnya pukul 12.15 WIB) genaplah usiaku ditambahkan 1 tahun oleh-NYA, Sang Pemberi Kehidupan itu! Sampai juga aku di angka 30 ini. Ada begitu banyak arti yang kutemukan waktu kurenungkan sejenak arti angka 30 ini dalam hidupku, tapi salah satu artinya yang pasti adalah 30 tahun kasih sayang Tuhan bagiku! Dan itu masih berlanjut! Lalu, apa lagi yang bisa kuungkapkan kepada-Mu saat ini, Tuhan, selain "Terima kasih, Tuhan!"

Dalam perenunganku akan perjalanan hidup yang sudah kulalui sampai hari ini, aku begitu kagum betapa nyata-Nya memang Tuhan membentuk (baca: mendidik) kita agar kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter kuat dan tangguh dalam menghadapi berbagai macam kesulitan yang muncul di hadapan kita. Memang benar kuakui bahwa proses yang sedang dan masih dijalani ini terkadang sulit dan tidak jarang juga membuat frustasi, tapi di sinilah kasih sayang-Nya dinyatakan, yaitu ketika Ia terus mengangkat kita ketika kita jatuh dan memastikan kita baik-baik saja, ketika Ia memberikan kita senyum-Nya yang menenangkan hati untuk menyemangati kita kembali, dan ketika Ia kemudian menepuk-nepuk pundak kita agar kita kembali kuat melanjutkan perjalanan kita bersama-Nya! Sekali lagi kuungkapkan, "Terima kasih, Tuhan!"


Hari ini ada begitu banyak doa berupa ucapan selamat ulang tahun yang diberikan oleh sahabat2ku (setidaknya, begitulah yang "terlihat" dalam akun FB-ku). Melalui kehadiran mereka, aku kembali diingatkan bahwa Tuhan sangat memperhatikan keadaan kita. Ia melihat, mendengar dan menyapa kita juga melalui para sahabat kita. Kita tidak pernah dibiarkan-Nya berjalan sendirian dalam hidup ini! "Terima kasih, Tuhan!"

Selamat ulang tahun? hmm...aku sedikit tergelitik mendengar dan membaca ungkapan ini. Menurutku, ungkapan yang baik ini perlu mendapat modifikasi karena maknanya, bagiku, kurang tepat. "Ulang tahun?" Bukankah tahun-tahun kehidupan kita tidak pernah berulang? Bukankah waktu itu terus berlalu dan ia akan lewat begitu saja? (dan justru itulah kita diingatkan untuk mengisinya dengan berbagai hal yang bermakna baik!) 

Lalu, apa modifikasinya? Aku mengusulkan ungkapan "Selamat bertambah usia!" Kenapa? karena memang yang terjadi seiring dengan berlalunya tahun-tahun kehidupan kita adalah pertambahan usia! Kenapa kata "selamat" tetap dipakai? Kata itu tetap dipakai karena....ehm, sebagai manusia yang fana, kita selalu perlu mendapat keselamatan! =)

Rabu, 01 Desember 2010

6 bulan dengan masa percobaan selama 10 bulan

"...dengan ini dinyatakan bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan perbantuan penipuan yang menyebabkan kerugian bagi orang lain dan dengan itu menjatuhi hukuman pidana selama 6 bulan dengan masa percobaan selama 10 bulan..." Kurang lebih demikianlah kalimat-kalimat yang samar-samar (karena dibacakan dengan pelan) kudengar dari mulut hakim ketua di ruang sidang kemarin siang itu. Inilah jawaban dari penantian dan proses panjang yang kami jalani sejak bulan Juli tahun 2010. 

Pagi ini buru-buru kucari definisi dari hukuman percobaan di internet. Akhirnya kudapati definisi itu: Hukuman percobaan (voorwaardelijke) adalah hukuman bersyarat atau hukuman dengan perjanjian. Arti hukuman percobaan adalah meskipun terdakwa dinyatakan bersalah dan dihukum dengan hukuman penjara, ia tidak perlu dimasukkan penjara atau lembaga pemasyarakatan asalkan selama masa percobaan ia dapat memperbaiki kelakukannya. Artinya ia tidak melakukan kejahatan lagi atau tidak melanggar perjanjian, dengan harapan apabila berhasil maka ia tidak perlu menjalani hukuman selamanya. (Sahlan Said: 2006). Ketentuan ini mengenai vonis percobaan hanya dapat diterapkan terhadap terdakwa yang diancam pidana paling lama 1 tahun penjara. Ketentuan ini dapat dilihat pada Pasal 14 a ayat (1) KUHP, menyebutkan : Apabila hakim menjatuhkan pidana paling lama satu tahun atau pidana kurungan, tidak termasuk pidana kurungan pengganti maka dalam putusnya hakim dapat memerintahkan pula bahwa pidana tidak usah dijalani, kecuali jika dikemudian hari ada putusan hakim yang menentukan lain, disebabkan karena si terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan yang ditentukan dalam perintah tersebut di atas habis, atau karena si terpidana selama masa percobaan tidak memenuhi syarat khusus yang mungkin ditentukan lain dalam perintah itu.


Secara pribadi aku bersyukur karena hukuman yang dijatuhkan kepada bunda masih di bawah tuntutan jaksa penuntut umum (8 bulan dengan masa percobaan 1 tahun), tapi ketika pikiranku menerawang kembali kepada apa yang sudah bunda alami selama proses panjang (mulai dari pemeriksaan di kantor polisi untuk membuat BAP, rutinitas wajib lapor, diserahkan dengan berkas penyidikan yang sudah P21 kepada jaksa, dimasukkan ke dalam sel selama 3 hari 2 malam, mengikuti persidangan hampir seminggu sekali, mengalami penundaan keputusan, sampai akhirnya mendengar vonis hakim) yang melelahkan secara fisik dan sangat menguras mental ini, muncul pertanyaan-pertanyaan di kepalaku: "Adilkah vonis ini? Di mana letak perbantuan yang bunda lakukan? Bukankah bunda sendiri juga korban yang dirugikan oleh sang maestro penipu itu? Bukankah proses panjang yang melelahkan ini juga sebenarnya adalah "hukuman" yang sudah dijalani oleh bunda? Masih kurang beratkah itu?"


Sejujurnya aku bingung kepada siapa aku mengalamatkan pertanyaan-pertanyaanku ini, karena toh palu hakim sudah diketok! Sepintas lalu pikiranku kembali kepada saat-saat kami sekeluarga berdoa sebelum sidang, "Tuhan, apa pun keputusan majelis hakim nanti, biarlah itu menjadi jawaban-Mu atas perkara yang kami hadapi. Biarlah kami berlapang dada menerima apa pun jawaban-Mu kepada kami!" Kebimbangan pun menghampiriku: kalau kami tidak menerima keputusan ini sebagai keputusan yang adil, apakah kami menentang jawaban Tuhan? atau, apakah Tuhan merestui kami apabila kami menempuh upaya hukum untuk banding?


Kami mempunyai waktu 7 hari untuk memberikan keputusan itu: menerima hukuman ini atau melakukan banding ke pengadilan tinggi. Satu hal yang kupinta lagi dalam doaku kepada-Nya: "Tuhan, berilah petunjuk-Mu agar kami tidak salah mengambil keputusan. Amin."

Kamis, 25 November 2010

Ternyata (masih) belum waktunya (lanjutan 2 x 24 jam)

Tulisan ini seharusnya kubuat hari Kamis (18/11) yang lalu, tapi karena satu dan lain hal, aku belum sempat membuatnya. Baiklah sekarang kuceritakan kejadian yang kami alami di hari Kamis, tepat satu minggu yang lalu, di ruang sidang Pengadilan Negeri di kotaku...

Hari itu seharusnya adalah hari yang memberikan kejelasan tentang perjalanan sidang perkara hukum yang dihadapi oleh bundaku, karena sudah dijadwalkan sejak dua minggu sebelumnya bahwa majelis hakim akan membacakan keputusan/vonis mereka terhadap perkara itu.Sejak malam sebelumnya, kami sekeluarga sudah mempersiapkan hati (baca: mental) untuk mendengarkan keputusan hakim. Kami pun menyerahkan hasil keputusan itu di dalam doa (aku juga berterima kasih kepada seluruh saudara dan sahabatku yang ikut mendukung kami di dalam doa!)

Namun, keesokan harinya kami mendapati jawaban Tuhan atas doa kami semalam itu: ternyata (masih) belum waktunya! Ketika kami sampai di pengadilan, kami mendapat kabar dari penasihat hukum bunda kalau keputusan hakim akan diundur! "Waduh, kenapa lagi, ini? Kenapa harus diperpanjang lagi keputusannya?!" gerutuku dalam hati. 

"Apa alasan pengunduran ini?" tanyaku kepada penasihat hukum bunda. Jawaban yang kudengar menurutku kurang masuk akal, karena, menurut penasihat hukum bunda, alasan majelis hakim mengundur keputusan mereka di hari itu karena ketua pengadilan negeri jatuh sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Itu sebabnya semua sidang di hari itu diundur ke waktu yang akan ditentukan kemudian. Demikianlah kami semua pulang dari kantor pengadilan negeri itu setelah mendengar bahwa keputusan majelis hakim akan dibacakan pada tanggal 1 Desember yang akan datang.


Dalam perjalanan pulang, aku merenungkan apa yang telah kami alami di hari itu. Tuhan sudah menjawab doa kami semua, dan jawaban-Nya adalah "tunggu" waktu-Nya. Meskipun aku merasa dongkol dengan keputusan majelis hakim, tapi aku seperti diingatkan kalau semua ini pada akhirnya merupakan keputusan dari Tuhan sendiri! Waktu Tuhan itu pasti lebih tepat bagi kami. Dan justru itulah alasannya kalau kami harus bersukacita. Bersukacita di dalam pengharapan akan hari yang ditentukan-Nya!
 

Selasa, 16 November 2010

2 x 24 jam lagi...

Kurang dari 2 x 24 jam lagi kami akan mendengarkan salah satu keputusan yang terpenting dalam hidup kami: apakah majelis hakim akan menyatakan bunda bebas dari segala tuntutan dan sekaligus memulihkan kembali status bunda dari "terdakwa" menjadi "orang merdeka" kembali, atau apakah bunda akan dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana yang tidak ia lakukan dan menjatuhkan hukuman yang tidak pernah pantas untuk beliau terima?

Jujur saja, beberapa hari belakangan ini pertanyaan-pertanyaan ini terus mengganggu pikiranku. Di satu sisi aku lega karena proses panjang persidangan yang "melelahkan secara psikis" ini sebentar lagi akan berakhir, namun di sisi lain, aku kuatir apabila hasil persidangan ini justru berbanding terbalik dari harapan kami!

Melihat pembawaan bunda akhir-akhir ini, aku bisa sedikit terhibur. Dari kesehariannya, aku melihat kalau beliau memang sudah lebih siap menghadapi hari penentuan itu (paling tidak, itu yang bisa kutangkap dari guratan wajahnya, meski aku tidak bisa menebak isi hati beliau yang sebenarnya!)

Namun, bagaimana kalau keputusannya nanti adalah bunda dinyatakan bersalah? Apa reaksi para "lawan" kami? Apakah mereka senang? puas? atau? Naik banding? Ah, sudahlah...mungkin bukan kapasitasku untuk bisa menampung semua pertanyaan itu. Tapi aku tahu satu hal yang bisa kulakukan saat ini: "Tuhan, tolonglah hamba-Mu yang kurang percaya ini. Biarlah kebenaran dan keadilan-Mu yang Kau nyatakan dalam akhir persidangan nanti! Terpujilah Engkau, Tuhan! Amin."

Senin, 25 Oktober 2010

Berdamai untuk Hal yang Lebih Penting: Mari bicara!

Dalam sebuah rumah tangga, pertengkaran yang terjadi di antara suami dan istri adalah hal yang lumrah (baca: wajar) untuk terjadi. Bagaimana mungkin dua kepala (dengan dua latar belakang isi yang berbeda) bisa dengan MULUS disatukan dalam satu rumah tangga? Pasti akan ada pergesekan di sana-sini, dan ini berpotensi menimbulkan pertengkaran/percekcokan.

Penyebab pertengkaran bisa diurutkan dari A sampai Z, namun secara umum mungkin bisa dikatakan kalau pertengkaran yang terjadi di antara sepasang suami dan istri adalah adanya harapan/ekspektasi yang cukup tinggi dari masing2 orang kepada pasangannya. Karena suami dan istri mempunyai tingkat kedekatan emosional yang sangat tinggi, maka tidak terelakkan lagi apabila suami tidak sungkan untuk meletakkan harapan yang tinggi kepada istrinya (dan demikian juga sebaliknya, istri kepada suaminya).

Masalahnya, karena adanya kedekatan emosional yang tinggi itu, masing2 orang tidak sungkan juga untuk melontarkan kritik2 (yang terkadang amat tajam) kepada pasangannya tanpa memperhitungkan perasaan pasangannya itu sendiri. Akibatnya, kritik itu berubah menjadi kecaman, dan apabila dibiarkan, maka keadaan akan menjadi semakin kacau.

Masing-masing orang punya "mekanisme pertahanan" sendiri kepada kritik/kecaman yang dialamatkan kepada dirinya. Saya melihat ada 2 bentuk di sini. Ada orang yang akan melakukan "perang terbuka", artinya ia akan mempertahankan posisinya dan malah akan menyerang balik dengan kritik/kecaman yang tidak kalah kejamnya. Akibat dari bentuk pertama ini adalah perang kata-kata dengan nada tinggi (baca: keras) dan apabila tidak segera dihentikan, maka bisa-bisa kita melihat penampakan piring terbang (dalam arti yang sebenarnya) di rumah tangga itu!



Bentuk kedua yang tidak lebih baik dari yang pertama adalah melakukan "perang dingin", artinya diam seribu bahasa. Apa pun yang dikatakan/dilakukan oleh pasangannya tidak digubris sama sekali. Mulut tertutup seribu bahasa. Seperti berhadapan dengan patung yang kaku dan dingin. Akibat dari bentuk kedua ini mungkin tidak seekstrim bentuk pertama (perang terbuka), tapi efek jangka panjangnya juga tidak kalah seramnya dari bentuk pertama tadi. Kalau dibiarkan terus, maka bisa saja rumah tangga itu diibaratkan telah dihuni oleh pasangan mayat hidup (karena meskipun mereka bisa berjalan dan melakukan aktivitas seperti orang hidup lainnya, tapi toh mereka sudah "mati rasa" di dalam hatinya.)


Lalu apa yang harus kita lakukan kalau pertengkaran menimpa rumah tangga kita? Daripada memilih pilihan pertama dan kedua yang sama-sama buruknya, mungkin ada 1 cara yang sederhana dan ampuh (namun dalam praktiknya tidak mudah dilakukan) yang bisa kita pilih. Cara itu adalah: BICARA. 


Yang saya maksud bicara di sini bukan sekadar berbicara mengutarakan uneg-uneg/komplain kepada pasangan, tapi justru membicarakan permasalahan dengan melibatkan perasaan pasangan kita. Contoh sederhananya mungkin bisa tampak seperti ini: "Saya tidak suka dengan caranya seperti itu. Saya tidak terima dengan kelakuannya. Tapi, mungkinkah ia berbuat begitu karena ia juga sedang mempunyai kesulitan yang tidak saya ketahui? Bisakah saya mengutarakan kepadanya apa yang saya rasakan tentangnya itu dengan maksud untuk memperbaiki kualitas hubungan kami dan bukannya untuk merendahkan dirinya dan menunjukkan bahwa memang ia bersalah?"


Sekali lagi, pada praktiknya, tidak mudah berbicara dengan cara seperti ini (melibatkan perasaan pasangan kita). Kenapa? karena kita pada dasarnya diciptakan dengan ego yang tinggi. Kita cenderung tidak mau dipersalahkan, dan akhirnya mudah menimpakan kesalahan kepada orang lain (yang dalam hal ini adalah pasangan kita sendiri.)


Akan tetapi, bagaimana kalau kita sudah berusaha berbicara dengan melibatkan perasaan pasangan, tapi tetap saja masalah tidak terselesaikan? Dengan kebesaran hati dan sambil terus menerus dibawa di dalam doa, mungkin kita perlu mengakui keterbatasan kita dalam hal mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi, dan kita dapat meminta pertolongan/bantuan dari orang-orang yang kita pandang kredibel dan dapat dipercaya untuk menengahi permasalahan yang kita hadapi dengan pasangan kita. Bukankah Tuhan juga menyediakan pertolongan-Nya melalui keberadaan orang-orang ini? Dengan berbesar hati, kita seharusnya tidak perlu merasa minder untuk mempertimbangkan hal ini.

Tulisan ini saya buat dalam situasi yang kurang mengenakkan. Rumah tangga dari kedua orang saudara saya yang saya amat kasihi sedang mengalami ujian pertengkaran ini. Belakangan malah terdengar suara-suara akan hal perceraian. Dalam pemahaman iman saya tentang arti pernikahan yang kudus, ini jelas hal yang sama sekali tidak bisa dibenarkan! Perceraian adalah dosa pemberontakan kepada Tuhan yang menciptakan dan menguduskan pernikahan itu, dan semua dosa pemberontakan pasti akan mendapat ganjaran-Nya!

Lalu yang tidak kalah pentingnya adalah dampak/akibat yang timbul kepada anak mereka (apalagi mengingat usianya yang masih kecil). Bukankah seorang anak membutuhkan perlindungan dan kasih sayang seutuhnya dari ayah dan ibunya? Dari manakah anak itu akan belajar bahasa kasih (mengasihi dan mengampuni) selain pada mulanya adalah dari kedua orangtuanya sendiri? Apakah tega kedua orangtuanya itu mengesampingkan anak mereka (dengan segala kebutuhan untuk perkembangan iman dan pribadinya) hanya karena masing-masing berkeras mempertahankan "kebenaran" versi pribadi dan menjatuhkan "kesalahan" kepada pasangannya? 

Bagaimana pula dengan janji baptis yang dengan lantang diucapkan di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya ketika sang ayah dan ibu itu membawa anak mereka ke hadapan Tuhan untuk diterima sebagai bagian dari warga kerajaan-Nya? Bukankah salah satu janji orangtua adalah akan mendidik dan membawa anak itu ke dalam pengenalan yang baik dan benar tentang Kristus? Kristus seperti apa yang akan ditangkap oleh benak anak itu kelak apabila kedua orangtuanya memilih untuk mengabaikan dirinya dan mementingkan ego masing-masing?

Melalui tulisan ini saya berharap dan sambil terus berdoa agar kedua orang saudara saya itu mengalahkan ego mereka masing-masing dan mengambil sikap yang positif untuk kembali berdamai dengan pasangannya. Ingatlah bahwa terlalu besar dan terlalu banyak hal yang dipertaruhkan apabila sebuah keputusan yang berangkat dari emosi itu yang pada akhirnya diambil sebagai kata akhir. Oleh sebab itu, mari (mulai) bicara!