Hai…selamat datang!

Perjalanan hidup setiap manusia di dunia ini tidak pernah sama. Demikian juga halnya dengan bagaimana setiap manusia itu memberi makna atas perjalanan hidupnya. Blog ini merupakan refleksi pribadi atas apa yang saya lihat, dengar, pikirkan, dan alami sehari-hari. Tulisan-tulisan dalam blog ini juga dibuat dengan jujur dan apa adanya. Tujuan dari blog ini semata-mata ingin menunjukkan bahwa hidup ini sungguh mempunyai makna, dan itu tergantung bagaimana kita memaknainya.

Senin, 25 Oktober 2010

Berdamai untuk Hal yang Lebih Penting: Mari bicara!

Dalam sebuah rumah tangga, pertengkaran yang terjadi di antara suami dan istri adalah hal yang lumrah (baca: wajar) untuk terjadi. Bagaimana mungkin dua kepala (dengan dua latar belakang isi yang berbeda) bisa dengan MULUS disatukan dalam satu rumah tangga? Pasti akan ada pergesekan di sana-sini, dan ini berpotensi menimbulkan pertengkaran/percekcokan.

Penyebab pertengkaran bisa diurutkan dari A sampai Z, namun secara umum mungkin bisa dikatakan kalau pertengkaran yang terjadi di antara sepasang suami dan istri adalah adanya harapan/ekspektasi yang cukup tinggi dari masing2 orang kepada pasangannya. Karena suami dan istri mempunyai tingkat kedekatan emosional yang sangat tinggi, maka tidak terelakkan lagi apabila suami tidak sungkan untuk meletakkan harapan yang tinggi kepada istrinya (dan demikian juga sebaliknya, istri kepada suaminya).

Masalahnya, karena adanya kedekatan emosional yang tinggi itu, masing2 orang tidak sungkan juga untuk melontarkan kritik2 (yang terkadang amat tajam) kepada pasangannya tanpa memperhitungkan perasaan pasangannya itu sendiri. Akibatnya, kritik itu berubah menjadi kecaman, dan apabila dibiarkan, maka keadaan akan menjadi semakin kacau.

Masing-masing orang punya "mekanisme pertahanan" sendiri kepada kritik/kecaman yang dialamatkan kepada dirinya. Saya melihat ada 2 bentuk di sini. Ada orang yang akan melakukan "perang terbuka", artinya ia akan mempertahankan posisinya dan malah akan menyerang balik dengan kritik/kecaman yang tidak kalah kejamnya. Akibat dari bentuk pertama ini adalah perang kata-kata dengan nada tinggi (baca: keras) dan apabila tidak segera dihentikan, maka bisa-bisa kita melihat penampakan piring terbang (dalam arti yang sebenarnya) di rumah tangga itu!



Bentuk kedua yang tidak lebih baik dari yang pertama adalah melakukan "perang dingin", artinya diam seribu bahasa. Apa pun yang dikatakan/dilakukan oleh pasangannya tidak digubris sama sekali. Mulut tertutup seribu bahasa. Seperti berhadapan dengan patung yang kaku dan dingin. Akibat dari bentuk kedua ini mungkin tidak seekstrim bentuk pertama (perang terbuka), tapi efek jangka panjangnya juga tidak kalah seramnya dari bentuk pertama tadi. Kalau dibiarkan terus, maka bisa saja rumah tangga itu diibaratkan telah dihuni oleh pasangan mayat hidup (karena meskipun mereka bisa berjalan dan melakukan aktivitas seperti orang hidup lainnya, tapi toh mereka sudah "mati rasa" di dalam hatinya.)


Lalu apa yang harus kita lakukan kalau pertengkaran menimpa rumah tangga kita? Daripada memilih pilihan pertama dan kedua yang sama-sama buruknya, mungkin ada 1 cara yang sederhana dan ampuh (namun dalam praktiknya tidak mudah dilakukan) yang bisa kita pilih. Cara itu adalah: BICARA. 


Yang saya maksud bicara di sini bukan sekadar berbicara mengutarakan uneg-uneg/komplain kepada pasangan, tapi justru membicarakan permasalahan dengan melibatkan perasaan pasangan kita. Contoh sederhananya mungkin bisa tampak seperti ini: "Saya tidak suka dengan caranya seperti itu. Saya tidak terima dengan kelakuannya. Tapi, mungkinkah ia berbuat begitu karena ia juga sedang mempunyai kesulitan yang tidak saya ketahui? Bisakah saya mengutarakan kepadanya apa yang saya rasakan tentangnya itu dengan maksud untuk memperbaiki kualitas hubungan kami dan bukannya untuk merendahkan dirinya dan menunjukkan bahwa memang ia bersalah?"


Sekali lagi, pada praktiknya, tidak mudah berbicara dengan cara seperti ini (melibatkan perasaan pasangan kita). Kenapa? karena kita pada dasarnya diciptakan dengan ego yang tinggi. Kita cenderung tidak mau dipersalahkan, dan akhirnya mudah menimpakan kesalahan kepada orang lain (yang dalam hal ini adalah pasangan kita sendiri.)


Akan tetapi, bagaimana kalau kita sudah berusaha berbicara dengan melibatkan perasaan pasangan, tapi tetap saja masalah tidak terselesaikan? Dengan kebesaran hati dan sambil terus menerus dibawa di dalam doa, mungkin kita perlu mengakui keterbatasan kita dalam hal mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi, dan kita dapat meminta pertolongan/bantuan dari orang-orang yang kita pandang kredibel dan dapat dipercaya untuk menengahi permasalahan yang kita hadapi dengan pasangan kita. Bukankah Tuhan juga menyediakan pertolongan-Nya melalui keberadaan orang-orang ini? Dengan berbesar hati, kita seharusnya tidak perlu merasa minder untuk mempertimbangkan hal ini.

Tulisan ini saya buat dalam situasi yang kurang mengenakkan. Rumah tangga dari kedua orang saudara saya yang saya amat kasihi sedang mengalami ujian pertengkaran ini. Belakangan malah terdengar suara-suara akan hal perceraian. Dalam pemahaman iman saya tentang arti pernikahan yang kudus, ini jelas hal yang sama sekali tidak bisa dibenarkan! Perceraian adalah dosa pemberontakan kepada Tuhan yang menciptakan dan menguduskan pernikahan itu, dan semua dosa pemberontakan pasti akan mendapat ganjaran-Nya!

Lalu yang tidak kalah pentingnya adalah dampak/akibat yang timbul kepada anak mereka (apalagi mengingat usianya yang masih kecil). Bukankah seorang anak membutuhkan perlindungan dan kasih sayang seutuhnya dari ayah dan ibunya? Dari manakah anak itu akan belajar bahasa kasih (mengasihi dan mengampuni) selain pada mulanya adalah dari kedua orangtuanya sendiri? Apakah tega kedua orangtuanya itu mengesampingkan anak mereka (dengan segala kebutuhan untuk perkembangan iman dan pribadinya) hanya karena masing-masing berkeras mempertahankan "kebenaran" versi pribadi dan menjatuhkan "kesalahan" kepada pasangannya? 

Bagaimana pula dengan janji baptis yang dengan lantang diucapkan di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya ketika sang ayah dan ibu itu membawa anak mereka ke hadapan Tuhan untuk diterima sebagai bagian dari warga kerajaan-Nya? Bukankah salah satu janji orangtua adalah akan mendidik dan membawa anak itu ke dalam pengenalan yang baik dan benar tentang Kristus? Kristus seperti apa yang akan ditangkap oleh benak anak itu kelak apabila kedua orangtuanya memilih untuk mengabaikan dirinya dan mementingkan ego masing-masing?

Melalui tulisan ini saya berharap dan sambil terus berdoa agar kedua orang saudara saya itu mengalahkan ego mereka masing-masing dan mengambil sikap yang positif untuk kembali berdamai dengan pasangannya. Ingatlah bahwa terlalu besar dan terlalu banyak hal yang dipertaruhkan apabila sebuah keputusan yang berangkat dari emosi itu yang pada akhirnya diambil sebagai kata akhir. Oleh sebab itu, mari (mulai) bicara! 

1 komentar:

  1. Akhirnya.....thank you so much for your pray 'n beautiful critics for us.......thanks a lot from us to u for my dearest brother......

    BalasHapus