Dalam sebuah rumah tangga, pertengkaran yang terjadi di antara suami dan istri adalah hal yang lumrah (baca: wajar) untuk terjadi. Bagaimana mungkin dua kepala (dengan dua latar belakang isi yang berbeda) bisa dengan MULUS disatukan dalam satu rumah tangga? Pasti akan ada pergesekan di sana-sini, dan ini berpotensi menimbulkan pertengkaran/percekcokan.
Penyebab pertengkaran bisa diurutkan dari A sampai Z, namun secara umum mungkin bisa dikatakan kalau pertengkaran yang terjadi di antara sepasang suami dan istri adalah adanya harapan/ekspektasi yang cukup tinggi dari masing2 orang kepada pasangannya. Karena suami dan istri mempunyai tingkat kedekatan emosional yang sangat tinggi, maka tidak terelakkan lagi apabila suami tidak sungkan untuk meletakkan harapan yang tinggi kepada istrinya (dan demikian juga sebaliknya, istri kepada suaminya).
Masalahnya, karena adanya kedekatan emosional yang tinggi itu, masing2 orang tidak sungkan juga untuk melontarkan kritik2 (yang terkadang amat tajam) kepada pasangannya tanpa memperhitungkan perasaan pasangannya itu sendiri. Akibatnya, kritik itu berubah menjadi kecaman, dan apabila dibiarkan, maka keadaan akan menjadi semakin kacau.
Masing-masing orang punya "mekanisme pertahanan" sendiri kepada kritik/kecaman yang dialamatkan kepada dirinya. Saya melihat ada 2 bentuk di sini. Ada orang yang akan melakukan "perang terbuka", artinya ia akan mempertahankan posisinya dan malah akan menyerang balik dengan kritik/kecaman yang tidak kalah kejamnya. Akibat dari bentuk pertama ini adalah perang kata-kata dengan nada tinggi (baca: keras) dan apabila tidak segera dihentikan, maka bisa-bisa kita melihat penampakan piring terbang (dalam arti yang sebenarnya) di rumah tangga itu!
Bentuk kedua yang tidak lebih baik dari yang pertama adalah melakukan "perang dingin", artinya diam seribu bahasa. Apa pun yang dikatakan/dilakukan oleh pasangannya tidak digubris sama sekali. Mulut tertutup seribu bahasa. Seperti berhadapan dengan patung yang kaku dan dingin. Akibat dari bentuk kedua ini mungkin tidak seekstrim bentuk pertama (perang terbuka), tapi efek jangka panjangnya juga tidak kalah seramnya dari bentuk pertama tadi. Kalau dibiarkan terus, maka bisa saja rumah tangga itu diibaratkan telah dihuni oleh pasangan mayat hidup (karena meskipun mereka bisa berjalan dan melakukan aktivitas seperti orang hidup lainnya, tapi toh mereka sudah "mati rasa" di dalam hatinya.)
Lalu apa yang harus kita lakukan kalau pertengkaran menimpa rumah tangga kita? Daripada memilih pilihan pertama dan kedua yang sama-sama buruknya, mungkin ada 1 cara yang sederhana dan ampuh (namun dalam praktiknya tidak mudah dilakukan) yang bisa kita pilih. Cara itu adalah: BICARA.
Yang saya maksud bicara di sini bukan sekadar berbicara mengutarakan uneg-uneg/komplain kepada pasangan, tapi justru membicarakan permasalahan dengan melibatkan perasaan pasangan kita. Contoh sederhananya mungkin bisa tampak seperti ini: "Saya tidak suka dengan caranya seperti itu. Saya tidak terima dengan kelakuannya. Tapi, mungkinkah ia berbuat begitu karena ia juga sedang mempunyai kesulitan yang tidak saya ketahui? Bisakah saya mengutarakan kepadanya apa yang saya rasakan tentangnya itu dengan maksud untuk memperbaiki kualitas hubungan kami dan bukannya untuk merendahkan dirinya dan menunjukkan bahwa memang ia bersalah?"
Sekali lagi, pada praktiknya, tidak mudah berbicara dengan cara seperti ini (melibatkan perasaan pasangan kita). Kenapa? karena kita pada dasarnya diciptakan dengan ego yang tinggi. Kita cenderung tidak mau dipersalahkan, dan akhirnya mudah menimpakan kesalahan kepada orang lain (yang dalam hal ini adalah pasangan kita sendiri.)
Akan tetapi, bagaimana kalau kita sudah berusaha berbicara dengan melibatkan perasaan pasangan, tapi tetap saja masalah tidak terselesaikan? Dengan kebesaran hati dan sambil terus menerus dibawa di dalam doa, mungkin kita perlu mengakui keterbatasan kita dalam hal mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi, dan kita dapat meminta pertolongan/bantuan dari orang-orang yang kita pandang kredibel dan dapat dipercaya untuk menengahi permasalahan yang kita hadapi dengan pasangan kita. Bukankah Tuhan juga menyediakan pertolongan-Nya melalui keberadaan orang-orang ini? Dengan berbesar hati, kita seharusnya tidak perlu merasa minder untuk mempertimbangkan hal ini.
Tulisan ini saya buat dalam situasi yang kurang mengenakkan. Rumah tangga dari kedua orang saudara saya yang saya amat kasihi sedang mengalami ujian pertengkaran ini. Belakangan malah terdengar suara-suara akan hal perceraian. Dalam pemahaman iman saya tentang arti pernikahan yang kudus, ini jelas hal yang sama sekali tidak bisa dibenarkan! Perceraian adalah dosa pemberontakan kepada Tuhan yang menciptakan dan menguduskan pernikahan itu, dan semua dosa pemberontakan pasti akan mendapat ganjaran-Nya!
Lalu yang tidak kalah pentingnya adalah dampak/akibat yang timbul kepada anak mereka (apalagi mengingat usianya yang masih kecil). Bukankah seorang anak membutuhkan perlindungan dan kasih sayang seutuhnya dari ayah dan ibunya? Dari manakah anak itu akan belajar bahasa kasih (mengasihi dan mengampuni) selain pada mulanya adalah dari kedua orangtuanya sendiri? Apakah tega kedua orangtuanya itu mengesampingkan anak mereka (dengan segala kebutuhan untuk perkembangan iman dan pribadinya) hanya karena masing-masing berkeras mempertahankan "kebenaran" versi pribadi dan menjatuhkan "kesalahan" kepada pasangannya?
Bagaimana pula dengan janji baptis yang dengan lantang diucapkan di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya ketika sang ayah dan ibu itu membawa anak mereka ke hadapan Tuhan untuk diterima sebagai bagian dari warga kerajaan-Nya? Bukankah salah satu janji orangtua adalah akan mendidik dan membawa anak itu ke dalam pengenalan yang baik dan benar tentang Kristus? Kristus seperti apa yang akan ditangkap oleh benak anak itu kelak apabila kedua orangtuanya memilih untuk mengabaikan dirinya dan mementingkan ego masing-masing?
Melalui tulisan ini saya berharap dan sambil terus berdoa agar kedua orang saudara saya itu mengalahkan ego mereka masing-masing dan mengambil sikap yang positif untuk kembali berdamai dengan pasangannya. Ingatlah bahwa terlalu besar dan terlalu banyak hal yang dipertaruhkan apabila sebuah keputusan yang berangkat dari emosi itu yang pada akhirnya diambil sebagai kata akhir. Oleh sebab itu, mari (mulai) bicara!
Hai…selamat datang!
Perjalanan hidup setiap manusia di dunia ini tidak pernah sama. Demikian juga halnya dengan bagaimana setiap manusia itu memberi makna atas perjalanan hidupnya. Blog ini merupakan refleksi pribadi atas apa yang saya lihat, dengar, pikirkan, dan alami sehari-hari. Tulisan-tulisan dalam blog ini juga dibuat dengan jujur dan apa adanya. Tujuan dari blog ini semata-mata ingin menunjukkan bahwa hidup ini sungguh mempunyai makna, dan itu tergantung bagaimana kita memaknainya.
Perjalanan hidup setiap manusia di dunia ini tidak pernah sama. Demikian juga halnya dengan bagaimana setiap manusia itu memberi makna atas perjalanan hidupnya. Blog ini merupakan refleksi pribadi atas apa yang saya lihat, dengar, pikirkan, dan alami sehari-hari. Tulisan-tulisan dalam blog ini juga dibuat dengan jujur dan apa adanya. Tujuan dari blog ini semata-mata ingin menunjukkan bahwa hidup ini sungguh mempunyai makna, dan itu tergantung bagaimana kita memaknainya.
Senin, 25 Oktober 2010
Senin, 18 Oktober 2010
Harapan (penutup Trauma bagian 1 dan 2)
(sambungan dari bagian 2)
Harapan! Itulah yang membuat bunda bisa bertahan melalui hari-harinya yang "panjang" di tempat itu. Harapan itulah yang juga membuatku dan keluarga tidak menyerah dan terus berusaha mencari jalan untuk segera mengeluarkan beliau dari sana. Dan memang benar, harapan itu menguatkan kita untuk tidak menyerah dan terus berjuang, sampai kita mendapatkan apa yang kita usahakan!
Demikianlah dengan terus berharap dan berdoa, Bunda pada akhirnya bisa keluar dari tempat itu. "Rasanya seperti mimpi," begitulah kata beliau tentang pengalamannya selama beberapa hari harus berpisah dari kami dan tinggal di tempat tersebut. Jujur, kami pun merasakan hal yang sama: peristiwa itu tidak pernah terlintas sedetik pun dalam pikiran kami, tapi kami toh harus mengalaminya!
Sampai hari ini pun, kami terus berharap dan berdoa supaya kebenaran bisa terungkap: siapa yang salah, siapa yang benar. Upaya kami mengungkapkan kebenaran ini masih berproses terus. Apakah kami bisa mendapatkan kebenaran (dan keadilan) itu? Pertanyaan itu belum bisa dijawab sekarang, tapi dengan harapan, kami tidak akan menyerah, karena kami yakin bahwa jawaban itu akan segera datang!
Harapan! Itulah yang membuat bunda bisa bertahan melalui hari-harinya yang "panjang" di tempat itu. Harapan itulah yang juga membuatku dan keluarga tidak menyerah dan terus berusaha mencari jalan untuk segera mengeluarkan beliau dari sana. Dan memang benar, harapan itu menguatkan kita untuk tidak menyerah dan terus berjuang, sampai kita mendapatkan apa yang kita usahakan!
Demikianlah dengan terus berharap dan berdoa, Bunda pada akhirnya bisa keluar dari tempat itu. "Rasanya seperti mimpi," begitulah kata beliau tentang pengalamannya selama beberapa hari harus berpisah dari kami dan tinggal di tempat tersebut. Jujur, kami pun merasakan hal yang sama: peristiwa itu tidak pernah terlintas sedetik pun dalam pikiran kami, tapi kami toh harus mengalaminya!
Sampai hari ini pun, kami terus berharap dan berdoa supaya kebenaran bisa terungkap: siapa yang salah, siapa yang benar. Upaya kami mengungkapkan kebenaran ini masih berproses terus. Apakah kami bisa mendapatkan kebenaran (dan keadilan) itu? Pertanyaan itu belum bisa dijawab sekarang, tapi dengan harapan, kami tidak akan menyerah, karena kami yakin bahwa jawaban itu akan segera datang!
Rabu, 13 Oktober 2010
Trauma (bagian 2)
(sambungan dari bagian 1)
...Singkat cerita, bunda harus masuk dan menjadi seorang pesakitan di tempat yang menurutku memang menyeramkan itu. Aku ingat malam pertama kami harus meninggalkan beliau di sana, kami sama sekali tidak enak tidur di rumah. Segala macam bayangan yang buruk tentang apa yang akan dialami oleh bunda di dalam tempat itu terus menerus menghantuiku: bagaimana beliau tidur di sana, bagaimana perlakuan orang-orang lama di sana, apakah beliau dapat bertahan sampai kami menemukan cara untuk mengeluarkannya dari sana...argh....bayang-bayang itu terus berputar-putar di kepalaku sementara aku memaksakan diri untuk bisa tidur (agar keesokan harinya aku bisa tetap berpikir jernih untuk mencari jalan keluar).Rasanya tidak putus-putusnya aku berdoa di dalam hati kepada Tuhan, memohon agar bunda diberikan kekuatan dan ketabahan di sana, sementara kami mengusahakan apa yang bisa dilakukan untuk sesegera mungkin mengeluarkan beliau dari sana. "Tuhan, tolonglah kami!" begitulah seruan yang tidak putus-putusnya kuucapkan dalam hati.
Demikianlah keesokan harinya kami pagi-pagi bergegas menuju lapas. Selama dalam perjalanan, kucoba untuk menghibur hatiku yang gelisah dan cemas itu dengan mengimani doaku semalam tadi: Tuhan pasti akan kuatkan beliau dengan cara-Nya! Sesampainya di sana, kami pun membesuk sesuai prosedur yang berlaku; bunda pun dipanggil, sementara kami menunggu di ruang tunggu.
Rasanya lama sekali kami menunggu di ruang tunggu itu. Di dalam kegalauanku itu kulihat sosok bunda yang masuk melalui pintu dalam menuju terali besi yang memisahkan kami. Betapa hancur hatiku melihat kondisi bunda saat itu: wajahnya kuyu, sayu, sama sekali tidak sesuai dengan harapanku pada saat di perjalanan tadi. Dengan menahan emosiku, kutanyakan kabar beliau: "Gimana, ma? Mama tidak apa-apa semalam?" Jawaban beliau semakin membuat hatiku yang hancur tadi semakin berserakan: "Mama ga kuat. Benar-benar hancur di sini!"
Kami pun berusaha menghiburkan hatinya. Di situlah aku benar-benar merasa tidak berdaya. Hatiku menjerit sekeras-kerasnya, "Tuhan! Bagaimana ini?! Kenapa ini harus terjadi!" Dalam pikiranku juga terbayang wajah-wajah mereka yang menurutku berada di balik semua ini. Marah dan benci pun seakan menyeruak hendak menguasai kesadaranku. Tapi aku tidak boleh membiarkan diri hanyut di dalam emosi ini. "Ini bukan saatnya untuk marah, tapi aku harus tetap tegar dan tenang di hadapan beliau supaya beliau bisa terhibur hatinya," kataku dalam hati.
Demikianlah kami menyemangati bunda dengan mengatakan bahwa beliau akan segera keluar dari tempat itu (meskipun sesungguhnya aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa). Terlihat tatapan mata beliau yang penuh harapan mendengar perkataan kami itu. "Benar ya? Kalian janji? Mama benar-benar tidak kuat di sini lama-lama," begitulah kata beliau kepada kami. Setelah kami berdoa bersama, kami pun harus meninggalkan beliau karena waktu kunjungan kami sudah habis. "Berdoa dan sabar ya, ma. Kami akan segera usahakan mengeluarkan mama dari sini!" itulah kata-kataku sebelum kami pergi. Beliau mengangguk penuh harapan. (Bersambung...)
...Singkat cerita, bunda harus masuk dan menjadi seorang pesakitan di tempat yang menurutku memang menyeramkan itu. Aku ingat malam pertama kami harus meninggalkan beliau di sana, kami sama sekali tidak enak tidur di rumah. Segala macam bayangan yang buruk tentang apa yang akan dialami oleh bunda di dalam tempat itu terus menerus menghantuiku: bagaimana beliau tidur di sana, bagaimana perlakuan orang-orang lama di sana, apakah beliau dapat bertahan sampai kami menemukan cara untuk mengeluarkannya dari sana...argh....bayang-bayang itu terus berputar-putar di kepalaku sementara aku memaksakan diri untuk bisa tidur (agar keesokan harinya aku bisa tetap berpikir jernih untuk mencari jalan keluar).Rasanya tidak putus-putusnya aku berdoa di dalam hati kepada Tuhan, memohon agar bunda diberikan kekuatan dan ketabahan di sana, sementara kami mengusahakan apa yang bisa dilakukan untuk sesegera mungkin mengeluarkan beliau dari sana. "Tuhan, tolonglah kami!" begitulah seruan yang tidak putus-putusnya kuucapkan dalam hati.Demikianlah keesokan harinya kami pagi-pagi bergegas menuju lapas. Selama dalam perjalanan, kucoba untuk menghibur hatiku yang gelisah dan cemas itu dengan mengimani doaku semalam tadi: Tuhan pasti akan kuatkan beliau dengan cara-Nya! Sesampainya di sana, kami pun membesuk sesuai prosedur yang berlaku; bunda pun dipanggil, sementara kami menunggu di ruang tunggu.
Rasanya lama sekali kami menunggu di ruang tunggu itu. Di dalam kegalauanku itu kulihat sosok bunda yang masuk melalui pintu dalam menuju terali besi yang memisahkan kami. Betapa hancur hatiku melihat kondisi bunda saat itu: wajahnya kuyu, sayu, sama sekali tidak sesuai dengan harapanku pada saat di perjalanan tadi. Dengan menahan emosiku, kutanyakan kabar beliau: "Gimana, ma? Mama tidak apa-apa semalam?" Jawaban beliau semakin membuat hatiku yang hancur tadi semakin berserakan: "Mama ga kuat. Benar-benar hancur di sini!"
Kami pun berusaha menghiburkan hatinya. Di situlah aku benar-benar merasa tidak berdaya. Hatiku menjerit sekeras-kerasnya, "Tuhan! Bagaimana ini?! Kenapa ini harus terjadi!" Dalam pikiranku juga terbayang wajah-wajah mereka yang menurutku berada di balik semua ini. Marah dan benci pun seakan menyeruak hendak menguasai kesadaranku. Tapi aku tidak boleh membiarkan diri hanyut di dalam emosi ini. "Ini bukan saatnya untuk marah, tapi aku harus tetap tegar dan tenang di hadapan beliau supaya beliau bisa terhibur hatinya," kataku dalam hati.
Demikianlah kami menyemangati bunda dengan mengatakan bahwa beliau akan segera keluar dari tempat itu (meskipun sesungguhnya aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa). Terlihat tatapan mata beliau yang penuh harapan mendengar perkataan kami itu. "Benar ya? Kalian janji? Mama benar-benar tidak kuat di sini lama-lama," begitulah kata beliau kepada kami. Setelah kami berdoa bersama, kami pun harus meninggalkan beliau karena waktu kunjungan kami sudah habis. "Berdoa dan sabar ya, ma. Kami akan segera usahakan mengeluarkan mama dari sini!" itulah kata-kataku sebelum kami pergi. Beliau mengangguk penuh harapan. (Bersambung...)
Selasa, 12 Oktober 2010
Trauma (bagian 1)
Setiap kali melewati kantor itu, mataku pasti tidak luput memperhatikan sebuah bus berukuran sedang berwarna hitam yang diparkir di parkiran luar kantor itu. Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja sekujur tubuhku merasakan getaran yang membuat perasaanku tidak nyaman. Hmm...ingatanku segera saja berbalik kepada peristiwa kelam (mungkin terkelam menurutku, sampai hari ini) yang terjadi beberapa bulan yang lalu...Waktu itu hari Senin sore menjelang Maghrib, ketika suasana di sekeliling kawasan kantor itu mulai gelap seiring tertutupnya awan di balik awan malam. Aku baru saja kembali dari warung nasi di ujung jalan untuk membeli makan siang (karena kami belum makan sampai sore itu) untukku dan untuk beberapa orang anggota keluargaku. Kami sedang menunggu hasil keputusan petinggi kantor itu untuk memberikan kepastian atas masalah yang sedang kami hadapi.
Tidak akan pernah kulupakan pemandangan yang terpapar di hadapanku! Sambil masih menggenggam kantong plastik hitam yang berisi beberapa bungkus nasi dan lauk-pauk seadanya, kulihat bunda dan istriku berjalan bergegas, seakan terburu-buru sesuatu. "Ada apa ini!?" Dengan panik aku bertanya kepada bunda. "Saya akan dibawa ke penjara," jawab beliau singkat.
Aku sudah lupa (atau memang tidak mau mengingatnya) ekspresi wajah bunda yang menjawabku tadi. "Loh? Kok begini? Kenapa bisa masuk?!" tanyaku semakin panik. Tapi tidak ada seorang pun yang bisa menjawabku; tidak juga para penasihat hukum kami yang juga berjalan bergegas mengikuti bunda dari belakang. Terlihat semua wajah kecewa dan kesal pada diri mereka.
"Pak, mohon izin saya mendampingi bunda saya naik kendaraan ini," pintaku kepada petugas yang kebetulan berjalan di sampingku. "Maaf, silakan naik kendaraan sendiri saja dan sampai bertemu di lapas," jawabnya dingin.
"Mas, naik mobil saya saja. Kita segera ke lapas," kata seorang penasihat hukum kami. Aku pun naik ke mobilnya dan sementara kami meluncur ke sana, pikiranku buntu. Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi; hanya rasa takut, kesal, dan marah yang bergantian kurasakan...(bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)

