...Singkat cerita, bunda harus masuk dan menjadi seorang pesakitan di tempat yang menurutku memang menyeramkan itu. Aku ingat malam pertama kami harus meninggalkan beliau di sana, kami sama sekali tidak enak tidur di rumah. Segala macam bayangan yang buruk tentang apa yang akan dialami oleh bunda di dalam tempat itu terus menerus menghantuiku: bagaimana beliau tidur di sana, bagaimana perlakuan orang-orang lama di sana, apakah beliau dapat bertahan sampai kami menemukan cara untuk mengeluarkannya dari sana...argh....bayang-bayang itu terus berputar-putar di kepalaku sementara aku memaksakan diri untuk bisa tidur (agar keesokan harinya aku bisa tetap berpikir jernih untuk mencari jalan keluar).Rasanya tidak putus-putusnya aku berdoa di dalam hati kepada Tuhan, memohon agar bunda diberikan kekuatan dan ketabahan di sana, sementara kami mengusahakan apa yang bisa dilakukan untuk sesegera mungkin mengeluarkan beliau dari sana. "Tuhan, tolonglah kami!" begitulah seruan yang tidak putus-putusnya kuucapkan dalam hati.Demikianlah keesokan harinya kami pagi-pagi bergegas menuju lapas. Selama dalam perjalanan, kucoba untuk menghibur hatiku yang gelisah dan cemas itu dengan mengimani doaku semalam tadi: Tuhan pasti akan kuatkan beliau dengan cara-Nya! Sesampainya di sana, kami pun membesuk sesuai prosedur yang berlaku; bunda pun dipanggil, sementara kami menunggu di ruang tunggu.
Rasanya lama sekali kami menunggu di ruang tunggu itu. Di dalam kegalauanku itu kulihat sosok bunda yang masuk melalui pintu dalam menuju terali besi yang memisahkan kami. Betapa hancur hatiku melihat kondisi bunda saat itu: wajahnya kuyu, sayu, sama sekali tidak sesuai dengan harapanku pada saat di perjalanan tadi. Dengan menahan emosiku, kutanyakan kabar beliau: "Gimana, ma? Mama tidak apa-apa semalam?" Jawaban beliau semakin membuat hatiku yang hancur tadi semakin berserakan: "Mama ga kuat. Benar-benar hancur di sini!"
Kami pun berusaha menghiburkan hatinya. Di situlah aku benar-benar merasa tidak berdaya. Hatiku menjerit sekeras-kerasnya, "Tuhan! Bagaimana ini?! Kenapa ini harus terjadi!" Dalam pikiranku juga terbayang wajah-wajah mereka yang menurutku berada di balik semua ini. Marah dan benci pun seakan menyeruak hendak menguasai kesadaranku. Tapi aku tidak boleh membiarkan diri hanyut di dalam emosi ini. "Ini bukan saatnya untuk marah, tapi aku harus tetap tegar dan tenang di hadapan beliau supaya beliau bisa terhibur hatinya," kataku dalam hati.
Demikianlah kami menyemangati bunda dengan mengatakan bahwa beliau akan segera keluar dari tempat itu (meskipun sesungguhnya aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa). Terlihat tatapan mata beliau yang penuh harapan mendengar perkataan kami itu. "Benar ya? Kalian janji? Mama benar-benar tidak kuat di sini lama-lama," begitulah kata beliau kepada kami. Setelah kami berdoa bersama, kami pun harus meninggalkan beliau karena waktu kunjungan kami sudah habis. "Berdoa dan sabar ya, ma. Kami akan segera usahakan mengeluarkan mama dari sini!" itulah kata-kataku sebelum kami pergi. Beliau mengangguk penuh harapan. (Bersambung...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar