Hai…selamat datang!

Perjalanan hidup setiap manusia di dunia ini tidak pernah sama. Demikian juga halnya dengan bagaimana setiap manusia itu memberi makna atas perjalanan hidupnya. Blog ini merupakan refleksi pribadi atas apa yang saya lihat, dengar, pikirkan, dan alami sehari-hari. Tulisan-tulisan dalam blog ini juga dibuat dengan jujur dan apa adanya. Tujuan dari blog ini semata-mata ingin menunjukkan bahwa hidup ini sungguh mempunyai makna, dan itu tergantung bagaimana kita memaknainya.

Selasa, 12 Oktober 2010

Trauma (bagian 1)

Setiap kali melewati kantor itu, mataku pasti tidak luput memperhatikan sebuah bus berukuran sedang berwarna hitam yang diparkir di parkiran luar kantor itu. Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja sekujur tubuhku merasakan getaran yang membuat perasaanku tidak nyaman. Hmm...ingatanku segera saja berbalik kepada peristiwa kelam (mungkin terkelam menurutku, sampai hari ini) yang terjadi beberapa bulan yang lalu...

Waktu itu hari Senin sore menjelang Maghrib, ketika suasana di sekeliling kawasan kantor itu mulai gelap seiring tertutupnya awan di balik awan malam. Aku baru saja kembali dari warung nasi di ujung jalan untuk membeli makan siang (karena kami belum makan sampai sore itu) untukku dan untuk beberapa orang anggota keluargaku. Kami sedang menunggu hasil keputusan petinggi kantor itu untuk memberikan kepastian atas masalah yang sedang kami hadapi. 

Tidak akan pernah kulupakan pemandangan yang terpapar di hadapanku! Sambil masih menggenggam kantong plastik hitam yang berisi beberapa bungkus nasi dan lauk-pauk seadanya, kulihat bunda dan istriku berjalan bergegas, seakan terburu-buru sesuatu. "Ada apa ini!?" Dengan panik aku bertanya kepada bunda. "Saya akan dibawa ke penjara," jawab beliau singkat.

Aku sudah lupa (atau memang tidak mau mengingatnya) ekspresi wajah bunda yang menjawabku tadi. "Loh? Kok begini? Kenapa bisa masuk?!" tanyaku semakin panik. Tapi tidak ada seorang pun yang bisa menjawabku; tidak juga para penasihat hukum kami yang juga berjalan bergegas mengikuti bunda dari belakang. Terlihat semua wajah kecewa dan kesal pada diri mereka.

"Pak, mohon izin saya mendampingi bunda saya naik kendaraan ini," pintaku kepada petugas yang kebetulan berjalan di sampingku. "Maaf, silakan naik kendaraan sendiri saja dan sampai bertemu di lapas," jawabnya dingin.

"Mas, naik mobil saya saja. Kita segera ke lapas," kata seorang penasihat hukum kami. Aku pun naik ke mobilnya dan sementara kami meluncur ke sana, pikiranku buntu. Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi; hanya rasa takut, kesal, dan marah yang bergantian kurasakan...(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar