Hai…selamat datang!

Perjalanan hidup setiap manusia di dunia ini tidak pernah sama. Demikian juga halnya dengan bagaimana setiap manusia itu memberi makna atas perjalanan hidupnya. Blog ini merupakan refleksi pribadi atas apa yang saya lihat, dengar, pikirkan, dan alami sehari-hari. Tulisan-tulisan dalam blog ini juga dibuat dengan jujur dan apa adanya. Tujuan dari blog ini semata-mata ingin menunjukkan bahwa hidup ini sungguh mempunyai makna, dan itu tergantung bagaimana kita memaknainya.

Rabu, 08 Desember 2010

Arti 30: (bukan) Selamat Ulang Tahun....

Terima kasih, Tuhan! Hari ini (menurut Bunda, tepatnya pukul 12.15 WIB) genaplah usiaku ditambahkan 1 tahun oleh-NYA, Sang Pemberi Kehidupan itu! Sampai juga aku di angka 30 ini. Ada begitu banyak arti yang kutemukan waktu kurenungkan sejenak arti angka 30 ini dalam hidupku, tapi salah satu artinya yang pasti adalah 30 tahun kasih sayang Tuhan bagiku! Dan itu masih berlanjut! Lalu, apa lagi yang bisa kuungkapkan kepada-Mu saat ini, Tuhan, selain "Terima kasih, Tuhan!"

Dalam perenunganku akan perjalanan hidup yang sudah kulalui sampai hari ini, aku begitu kagum betapa nyata-Nya memang Tuhan membentuk (baca: mendidik) kita agar kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter kuat dan tangguh dalam menghadapi berbagai macam kesulitan yang muncul di hadapan kita. Memang benar kuakui bahwa proses yang sedang dan masih dijalani ini terkadang sulit dan tidak jarang juga membuat frustasi, tapi di sinilah kasih sayang-Nya dinyatakan, yaitu ketika Ia terus mengangkat kita ketika kita jatuh dan memastikan kita baik-baik saja, ketika Ia memberikan kita senyum-Nya yang menenangkan hati untuk menyemangati kita kembali, dan ketika Ia kemudian menepuk-nepuk pundak kita agar kita kembali kuat melanjutkan perjalanan kita bersama-Nya! Sekali lagi kuungkapkan, "Terima kasih, Tuhan!"


Hari ini ada begitu banyak doa berupa ucapan selamat ulang tahun yang diberikan oleh sahabat2ku (setidaknya, begitulah yang "terlihat" dalam akun FB-ku). Melalui kehadiran mereka, aku kembali diingatkan bahwa Tuhan sangat memperhatikan keadaan kita. Ia melihat, mendengar dan menyapa kita juga melalui para sahabat kita. Kita tidak pernah dibiarkan-Nya berjalan sendirian dalam hidup ini! "Terima kasih, Tuhan!"

Selamat ulang tahun? hmm...aku sedikit tergelitik mendengar dan membaca ungkapan ini. Menurutku, ungkapan yang baik ini perlu mendapat modifikasi karena maknanya, bagiku, kurang tepat. "Ulang tahun?" Bukankah tahun-tahun kehidupan kita tidak pernah berulang? Bukankah waktu itu terus berlalu dan ia akan lewat begitu saja? (dan justru itulah kita diingatkan untuk mengisinya dengan berbagai hal yang bermakna baik!) 

Lalu, apa modifikasinya? Aku mengusulkan ungkapan "Selamat bertambah usia!" Kenapa? karena memang yang terjadi seiring dengan berlalunya tahun-tahun kehidupan kita adalah pertambahan usia! Kenapa kata "selamat" tetap dipakai? Kata itu tetap dipakai karena....ehm, sebagai manusia yang fana, kita selalu perlu mendapat keselamatan! =)

Rabu, 01 Desember 2010

6 bulan dengan masa percobaan selama 10 bulan

"...dengan ini dinyatakan bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan perbantuan penipuan yang menyebabkan kerugian bagi orang lain dan dengan itu menjatuhi hukuman pidana selama 6 bulan dengan masa percobaan selama 10 bulan..." Kurang lebih demikianlah kalimat-kalimat yang samar-samar (karena dibacakan dengan pelan) kudengar dari mulut hakim ketua di ruang sidang kemarin siang itu. Inilah jawaban dari penantian dan proses panjang yang kami jalani sejak bulan Juli tahun 2010. 

Pagi ini buru-buru kucari definisi dari hukuman percobaan di internet. Akhirnya kudapati definisi itu: Hukuman percobaan (voorwaardelijke) adalah hukuman bersyarat atau hukuman dengan perjanjian. Arti hukuman percobaan adalah meskipun terdakwa dinyatakan bersalah dan dihukum dengan hukuman penjara, ia tidak perlu dimasukkan penjara atau lembaga pemasyarakatan asalkan selama masa percobaan ia dapat memperbaiki kelakukannya. Artinya ia tidak melakukan kejahatan lagi atau tidak melanggar perjanjian, dengan harapan apabila berhasil maka ia tidak perlu menjalani hukuman selamanya. (Sahlan Said: 2006). Ketentuan ini mengenai vonis percobaan hanya dapat diterapkan terhadap terdakwa yang diancam pidana paling lama 1 tahun penjara. Ketentuan ini dapat dilihat pada Pasal 14 a ayat (1) KUHP, menyebutkan : Apabila hakim menjatuhkan pidana paling lama satu tahun atau pidana kurungan, tidak termasuk pidana kurungan pengganti maka dalam putusnya hakim dapat memerintahkan pula bahwa pidana tidak usah dijalani, kecuali jika dikemudian hari ada putusan hakim yang menentukan lain, disebabkan karena si terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan yang ditentukan dalam perintah tersebut di atas habis, atau karena si terpidana selama masa percobaan tidak memenuhi syarat khusus yang mungkin ditentukan lain dalam perintah itu.


Secara pribadi aku bersyukur karena hukuman yang dijatuhkan kepada bunda masih di bawah tuntutan jaksa penuntut umum (8 bulan dengan masa percobaan 1 tahun), tapi ketika pikiranku menerawang kembali kepada apa yang sudah bunda alami selama proses panjang (mulai dari pemeriksaan di kantor polisi untuk membuat BAP, rutinitas wajib lapor, diserahkan dengan berkas penyidikan yang sudah P21 kepada jaksa, dimasukkan ke dalam sel selama 3 hari 2 malam, mengikuti persidangan hampir seminggu sekali, mengalami penundaan keputusan, sampai akhirnya mendengar vonis hakim) yang melelahkan secara fisik dan sangat menguras mental ini, muncul pertanyaan-pertanyaan di kepalaku: "Adilkah vonis ini? Di mana letak perbantuan yang bunda lakukan? Bukankah bunda sendiri juga korban yang dirugikan oleh sang maestro penipu itu? Bukankah proses panjang yang melelahkan ini juga sebenarnya adalah "hukuman" yang sudah dijalani oleh bunda? Masih kurang beratkah itu?"


Sejujurnya aku bingung kepada siapa aku mengalamatkan pertanyaan-pertanyaanku ini, karena toh palu hakim sudah diketok! Sepintas lalu pikiranku kembali kepada saat-saat kami sekeluarga berdoa sebelum sidang, "Tuhan, apa pun keputusan majelis hakim nanti, biarlah itu menjadi jawaban-Mu atas perkara yang kami hadapi. Biarlah kami berlapang dada menerima apa pun jawaban-Mu kepada kami!" Kebimbangan pun menghampiriku: kalau kami tidak menerima keputusan ini sebagai keputusan yang adil, apakah kami menentang jawaban Tuhan? atau, apakah Tuhan merestui kami apabila kami menempuh upaya hukum untuk banding?


Kami mempunyai waktu 7 hari untuk memberikan keputusan itu: menerima hukuman ini atau melakukan banding ke pengadilan tinggi. Satu hal yang kupinta lagi dalam doaku kepada-Nya: "Tuhan, berilah petunjuk-Mu agar kami tidak salah mengambil keputusan. Amin."

Kamis, 25 November 2010

Ternyata (masih) belum waktunya (lanjutan 2 x 24 jam)

Tulisan ini seharusnya kubuat hari Kamis (18/11) yang lalu, tapi karena satu dan lain hal, aku belum sempat membuatnya. Baiklah sekarang kuceritakan kejadian yang kami alami di hari Kamis, tepat satu minggu yang lalu, di ruang sidang Pengadilan Negeri di kotaku...

Hari itu seharusnya adalah hari yang memberikan kejelasan tentang perjalanan sidang perkara hukum yang dihadapi oleh bundaku, karena sudah dijadwalkan sejak dua minggu sebelumnya bahwa majelis hakim akan membacakan keputusan/vonis mereka terhadap perkara itu.Sejak malam sebelumnya, kami sekeluarga sudah mempersiapkan hati (baca: mental) untuk mendengarkan keputusan hakim. Kami pun menyerahkan hasil keputusan itu di dalam doa (aku juga berterima kasih kepada seluruh saudara dan sahabatku yang ikut mendukung kami di dalam doa!)

Namun, keesokan harinya kami mendapati jawaban Tuhan atas doa kami semalam itu: ternyata (masih) belum waktunya! Ketika kami sampai di pengadilan, kami mendapat kabar dari penasihat hukum bunda kalau keputusan hakim akan diundur! "Waduh, kenapa lagi, ini? Kenapa harus diperpanjang lagi keputusannya?!" gerutuku dalam hati. 

"Apa alasan pengunduran ini?" tanyaku kepada penasihat hukum bunda. Jawaban yang kudengar menurutku kurang masuk akal, karena, menurut penasihat hukum bunda, alasan majelis hakim mengundur keputusan mereka di hari itu karena ketua pengadilan negeri jatuh sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Itu sebabnya semua sidang di hari itu diundur ke waktu yang akan ditentukan kemudian. Demikianlah kami semua pulang dari kantor pengadilan negeri itu setelah mendengar bahwa keputusan majelis hakim akan dibacakan pada tanggal 1 Desember yang akan datang.


Dalam perjalanan pulang, aku merenungkan apa yang telah kami alami di hari itu. Tuhan sudah menjawab doa kami semua, dan jawaban-Nya adalah "tunggu" waktu-Nya. Meskipun aku merasa dongkol dengan keputusan majelis hakim, tapi aku seperti diingatkan kalau semua ini pada akhirnya merupakan keputusan dari Tuhan sendiri! Waktu Tuhan itu pasti lebih tepat bagi kami. Dan justru itulah alasannya kalau kami harus bersukacita. Bersukacita di dalam pengharapan akan hari yang ditentukan-Nya!
 

Selasa, 16 November 2010

2 x 24 jam lagi...

Kurang dari 2 x 24 jam lagi kami akan mendengarkan salah satu keputusan yang terpenting dalam hidup kami: apakah majelis hakim akan menyatakan bunda bebas dari segala tuntutan dan sekaligus memulihkan kembali status bunda dari "terdakwa" menjadi "orang merdeka" kembali, atau apakah bunda akan dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana yang tidak ia lakukan dan menjatuhkan hukuman yang tidak pernah pantas untuk beliau terima?

Jujur saja, beberapa hari belakangan ini pertanyaan-pertanyaan ini terus mengganggu pikiranku. Di satu sisi aku lega karena proses panjang persidangan yang "melelahkan secara psikis" ini sebentar lagi akan berakhir, namun di sisi lain, aku kuatir apabila hasil persidangan ini justru berbanding terbalik dari harapan kami!

Melihat pembawaan bunda akhir-akhir ini, aku bisa sedikit terhibur. Dari kesehariannya, aku melihat kalau beliau memang sudah lebih siap menghadapi hari penentuan itu (paling tidak, itu yang bisa kutangkap dari guratan wajahnya, meski aku tidak bisa menebak isi hati beliau yang sebenarnya!)

Namun, bagaimana kalau keputusannya nanti adalah bunda dinyatakan bersalah? Apa reaksi para "lawan" kami? Apakah mereka senang? puas? atau? Naik banding? Ah, sudahlah...mungkin bukan kapasitasku untuk bisa menampung semua pertanyaan itu. Tapi aku tahu satu hal yang bisa kulakukan saat ini: "Tuhan, tolonglah hamba-Mu yang kurang percaya ini. Biarlah kebenaran dan keadilan-Mu yang Kau nyatakan dalam akhir persidangan nanti! Terpujilah Engkau, Tuhan! Amin."

Senin, 25 Oktober 2010

Berdamai untuk Hal yang Lebih Penting: Mari bicara!

Dalam sebuah rumah tangga, pertengkaran yang terjadi di antara suami dan istri adalah hal yang lumrah (baca: wajar) untuk terjadi. Bagaimana mungkin dua kepala (dengan dua latar belakang isi yang berbeda) bisa dengan MULUS disatukan dalam satu rumah tangga? Pasti akan ada pergesekan di sana-sini, dan ini berpotensi menimbulkan pertengkaran/percekcokan.

Penyebab pertengkaran bisa diurutkan dari A sampai Z, namun secara umum mungkin bisa dikatakan kalau pertengkaran yang terjadi di antara sepasang suami dan istri adalah adanya harapan/ekspektasi yang cukup tinggi dari masing2 orang kepada pasangannya. Karena suami dan istri mempunyai tingkat kedekatan emosional yang sangat tinggi, maka tidak terelakkan lagi apabila suami tidak sungkan untuk meletakkan harapan yang tinggi kepada istrinya (dan demikian juga sebaliknya, istri kepada suaminya).

Masalahnya, karena adanya kedekatan emosional yang tinggi itu, masing2 orang tidak sungkan juga untuk melontarkan kritik2 (yang terkadang amat tajam) kepada pasangannya tanpa memperhitungkan perasaan pasangannya itu sendiri. Akibatnya, kritik itu berubah menjadi kecaman, dan apabila dibiarkan, maka keadaan akan menjadi semakin kacau.

Masing-masing orang punya "mekanisme pertahanan" sendiri kepada kritik/kecaman yang dialamatkan kepada dirinya. Saya melihat ada 2 bentuk di sini. Ada orang yang akan melakukan "perang terbuka", artinya ia akan mempertahankan posisinya dan malah akan menyerang balik dengan kritik/kecaman yang tidak kalah kejamnya. Akibat dari bentuk pertama ini adalah perang kata-kata dengan nada tinggi (baca: keras) dan apabila tidak segera dihentikan, maka bisa-bisa kita melihat penampakan piring terbang (dalam arti yang sebenarnya) di rumah tangga itu!



Bentuk kedua yang tidak lebih baik dari yang pertama adalah melakukan "perang dingin", artinya diam seribu bahasa. Apa pun yang dikatakan/dilakukan oleh pasangannya tidak digubris sama sekali. Mulut tertutup seribu bahasa. Seperti berhadapan dengan patung yang kaku dan dingin. Akibat dari bentuk kedua ini mungkin tidak seekstrim bentuk pertama (perang terbuka), tapi efek jangka panjangnya juga tidak kalah seramnya dari bentuk pertama tadi. Kalau dibiarkan terus, maka bisa saja rumah tangga itu diibaratkan telah dihuni oleh pasangan mayat hidup (karena meskipun mereka bisa berjalan dan melakukan aktivitas seperti orang hidup lainnya, tapi toh mereka sudah "mati rasa" di dalam hatinya.)


Lalu apa yang harus kita lakukan kalau pertengkaran menimpa rumah tangga kita? Daripada memilih pilihan pertama dan kedua yang sama-sama buruknya, mungkin ada 1 cara yang sederhana dan ampuh (namun dalam praktiknya tidak mudah dilakukan) yang bisa kita pilih. Cara itu adalah: BICARA. 


Yang saya maksud bicara di sini bukan sekadar berbicara mengutarakan uneg-uneg/komplain kepada pasangan, tapi justru membicarakan permasalahan dengan melibatkan perasaan pasangan kita. Contoh sederhananya mungkin bisa tampak seperti ini: "Saya tidak suka dengan caranya seperti itu. Saya tidak terima dengan kelakuannya. Tapi, mungkinkah ia berbuat begitu karena ia juga sedang mempunyai kesulitan yang tidak saya ketahui? Bisakah saya mengutarakan kepadanya apa yang saya rasakan tentangnya itu dengan maksud untuk memperbaiki kualitas hubungan kami dan bukannya untuk merendahkan dirinya dan menunjukkan bahwa memang ia bersalah?"


Sekali lagi, pada praktiknya, tidak mudah berbicara dengan cara seperti ini (melibatkan perasaan pasangan kita). Kenapa? karena kita pada dasarnya diciptakan dengan ego yang tinggi. Kita cenderung tidak mau dipersalahkan, dan akhirnya mudah menimpakan kesalahan kepada orang lain (yang dalam hal ini adalah pasangan kita sendiri.)


Akan tetapi, bagaimana kalau kita sudah berusaha berbicara dengan melibatkan perasaan pasangan, tapi tetap saja masalah tidak terselesaikan? Dengan kebesaran hati dan sambil terus menerus dibawa di dalam doa, mungkin kita perlu mengakui keterbatasan kita dalam hal mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi, dan kita dapat meminta pertolongan/bantuan dari orang-orang yang kita pandang kredibel dan dapat dipercaya untuk menengahi permasalahan yang kita hadapi dengan pasangan kita. Bukankah Tuhan juga menyediakan pertolongan-Nya melalui keberadaan orang-orang ini? Dengan berbesar hati, kita seharusnya tidak perlu merasa minder untuk mempertimbangkan hal ini.

Tulisan ini saya buat dalam situasi yang kurang mengenakkan. Rumah tangga dari kedua orang saudara saya yang saya amat kasihi sedang mengalami ujian pertengkaran ini. Belakangan malah terdengar suara-suara akan hal perceraian. Dalam pemahaman iman saya tentang arti pernikahan yang kudus, ini jelas hal yang sama sekali tidak bisa dibenarkan! Perceraian adalah dosa pemberontakan kepada Tuhan yang menciptakan dan menguduskan pernikahan itu, dan semua dosa pemberontakan pasti akan mendapat ganjaran-Nya!

Lalu yang tidak kalah pentingnya adalah dampak/akibat yang timbul kepada anak mereka (apalagi mengingat usianya yang masih kecil). Bukankah seorang anak membutuhkan perlindungan dan kasih sayang seutuhnya dari ayah dan ibunya? Dari manakah anak itu akan belajar bahasa kasih (mengasihi dan mengampuni) selain pada mulanya adalah dari kedua orangtuanya sendiri? Apakah tega kedua orangtuanya itu mengesampingkan anak mereka (dengan segala kebutuhan untuk perkembangan iman dan pribadinya) hanya karena masing-masing berkeras mempertahankan "kebenaran" versi pribadi dan menjatuhkan "kesalahan" kepada pasangannya? 

Bagaimana pula dengan janji baptis yang dengan lantang diucapkan di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya ketika sang ayah dan ibu itu membawa anak mereka ke hadapan Tuhan untuk diterima sebagai bagian dari warga kerajaan-Nya? Bukankah salah satu janji orangtua adalah akan mendidik dan membawa anak itu ke dalam pengenalan yang baik dan benar tentang Kristus? Kristus seperti apa yang akan ditangkap oleh benak anak itu kelak apabila kedua orangtuanya memilih untuk mengabaikan dirinya dan mementingkan ego masing-masing?

Melalui tulisan ini saya berharap dan sambil terus berdoa agar kedua orang saudara saya itu mengalahkan ego mereka masing-masing dan mengambil sikap yang positif untuk kembali berdamai dengan pasangannya. Ingatlah bahwa terlalu besar dan terlalu banyak hal yang dipertaruhkan apabila sebuah keputusan yang berangkat dari emosi itu yang pada akhirnya diambil sebagai kata akhir. Oleh sebab itu, mari (mulai) bicara! 

Senin, 18 Oktober 2010

Harapan (penutup Trauma bagian 1 dan 2)

(sambungan dari bagian 2) 

Harapan! Itulah yang membuat bunda bisa bertahan melalui hari-harinya yang "panjang" di tempat itu. Harapan itulah yang juga membuatku dan keluarga tidak menyerah dan terus berusaha mencari jalan untuk segera mengeluarkan beliau dari sana. Dan memang benar, harapan itu menguatkan kita untuk tidak menyerah dan terus berjuang, sampai kita mendapatkan apa yang kita usahakan!


Demikianlah dengan terus berharap dan berdoa, Bunda pada akhirnya bisa keluar dari tempat itu. "Rasanya seperti mimpi," begitulah kata beliau tentang pengalamannya selama beberapa hari harus berpisah dari kami dan tinggal di tempat tersebut. Jujur, kami pun merasakan hal yang sama: peristiwa itu tidak pernah terlintas sedetik pun dalam pikiran kami, tapi kami toh harus mengalaminya!


Sampai hari ini pun, kami terus berharap dan berdoa supaya kebenaran bisa terungkap: siapa yang salah, siapa yang benar. Upaya kami mengungkapkan kebenaran ini masih berproses terus. Apakah kami bisa mendapatkan kebenaran (dan keadilan) itu? Pertanyaan itu belum bisa dijawab sekarang, tapi dengan harapan, kami tidak akan menyerah, karena kami yakin bahwa jawaban itu akan segera datang!

Rabu, 13 Oktober 2010

Trauma (bagian 2)

(sambungan dari bagian 1)
...Singkat cerita, bunda harus masuk dan menjadi seorang pesakitan di tempat yang menurutku memang menyeramkan itu. Aku ingat malam pertama kami harus meninggalkan beliau di sana, kami sama sekali tidak enak tidur di rumah. Segala macam bayangan yang buruk tentang apa yang akan dialami oleh bunda di dalam tempat itu terus menerus menghantuiku: bagaimana beliau tidur di sana, bagaimana perlakuan orang-orang lama di sana, apakah beliau dapat bertahan sampai kami menemukan cara untuk mengeluarkannya dari sana...argh....bayang-bayang itu terus berputar-putar di kepalaku sementara aku memaksakan diri untuk bisa tidur (agar keesokan harinya aku bisa tetap berpikir jernih untuk mencari jalan keluar).Rasanya tidak putus-putusnya aku berdoa di dalam hati kepada Tuhan, memohon agar bunda diberikan kekuatan dan ketabahan di sana, sementara kami mengusahakan apa yang bisa dilakukan untuk sesegera mungkin mengeluarkan beliau dari sana. "Tuhan, tolonglah kami!" begitulah seruan yang tidak putus-putusnya kuucapkan dalam hati.

Demikianlah keesokan harinya kami pagi-pagi bergegas menuju lapas. Selama dalam perjalanan, kucoba untuk menghibur hatiku yang gelisah dan cemas itu dengan mengimani doaku semalam tadi: Tuhan pasti akan kuatkan beliau dengan cara-Nya! Sesampainya di sana, kami pun membesuk sesuai prosedur yang berlaku; bunda pun dipanggil, sementara kami menunggu di ruang tunggu.

Rasanya lama sekali kami menunggu di ruang tunggu itu. Di dalam kegalauanku itu kulihat sosok bunda yang masuk melalui pintu dalam menuju terali besi yang memisahkan kami. Betapa hancur hatiku melihat kondisi bunda saat itu: wajahnya kuyu, sayu, sama sekali tidak sesuai dengan harapanku pada saat di perjalanan tadi. Dengan menahan emosiku, kutanyakan kabar beliau: "Gimana, ma? Mama tidak apa-apa semalam?" Jawaban beliau semakin membuat hatiku yang hancur tadi semakin berserakan: "Mama ga kuat. Benar-benar hancur di sini!"


Kami pun berusaha menghiburkan hatinya. Di situlah aku benar-benar merasa tidak berdaya. Hatiku menjerit sekeras-kerasnya, "Tuhan! Bagaimana ini?! Kenapa ini harus terjadi!" Dalam pikiranku juga terbayang wajah-wajah mereka yang menurutku berada di balik semua ini. Marah dan benci pun seakan menyeruak hendak menguasai kesadaranku. Tapi aku tidak boleh membiarkan diri hanyut di dalam emosi ini. "Ini bukan saatnya untuk marah, tapi aku harus tetap tegar dan tenang di hadapan beliau supaya beliau bisa terhibur hatinya," kataku dalam hati.


Demikianlah kami menyemangati bunda dengan mengatakan bahwa beliau akan segera keluar dari tempat itu (meskipun sesungguhnya aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa). Terlihat tatapan mata beliau yang penuh harapan mendengar perkataan kami itu. "Benar ya? Kalian janji? Mama benar-benar tidak kuat di sini lama-lama," begitulah kata beliau kepada kami. Setelah kami berdoa bersama, kami pun harus meninggalkan beliau karena waktu kunjungan kami sudah habis. "Berdoa dan sabar ya, ma. Kami akan segera usahakan mengeluarkan mama dari sini!" itulah kata-kataku sebelum kami pergi. Beliau mengangguk penuh harapan. (Bersambung...)



Selasa, 12 Oktober 2010

Trauma (bagian 1)

Setiap kali melewati kantor itu, mataku pasti tidak luput memperhatikan sebuah bus berukuran sedang berwarna hitam yang diparkir di parkiran luar kantor itu. Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja sekujur tubuhku merasakan getaran yang membuat perasaanku tidak nyaman. Hmm...ingatanku segera saja berbalik kepada peristiwa kelam (mungkin terkelam menurutku, sampai hari ini) yang terjadi beberapa bulan yang lalu...

Waktu itu hari Senin sore menjelang Maghrib, ketika suasana di sekeliling kawasan kantor itu mulai gelap seiring tertutupnya awan di balik awan malam. Aku baru saja kembali dari warung nasi di ujung jalan untuk membeli makan siang (karena kami belum makan sampai sore itu) untukku dan untuk beberapa orang anggota keluargaku. Kami sedang menunggu hasil keputusan petinggi kantor itu untuk memberikan kepastian atas masalah yang sedang kami hadapi. 

Tidak akan pernah kulupakan pemandangan yang terpapar di hadapanku! Sambil masih menggenggam kantong plastik hitam yang berisi beberapa bungkus nasi dan lauk-pauk seadanya, kulihat bunda dan istriku berjalan bergegas, seakan terburu-buru sesuatu. "Ada apa ini!?" Dengan panik aku bertanya kepada bunda. "Saya akan dibawa ke penjara," jawab beliau singkat.

Aku sudah lupa (atau memang tidak mau mengingatnya) ekspresi wajah bunda yang menjawabku tadi. "Loh? Kok begini? Kenapa bisa masuk?!" tanyaku semakin panik. Tapi tidak ada seorang pun yang bisa menjawabku; tidak juga para penasihat hukum kami yang juga berjalan bergegas mengikuti bunda dari belakang. Terlihat semua wajah kecewa dan kesal pada diri mereka.

"Pak, mohon izin saya mendampingi bunda saya naik kendaraan ini," pintaku kepada petugas yang kebetulan berjalan di sampingku. "Maaf, silakan naik kendaraan sendiri saja dan sampai bertemu di lapas," jawabnya dingin.

"Mas, naik mobil saya saja. Kita segera ke lapas," kata seorang penasihat hukum kami. Aku pun naik ke mobilnya dan sementara kami meluncur ke sana, pikiranku buntu. Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi; hanya rasa takut, kesal, dan marah yang bergantian kurasakan...(bersambung)

Senin, 27 September 2010

Tolong, jangan puji saya!

Siapa di antara kita yang tidak senang dipuji? Rasanya hampir semua orang senang dipuji. Saya jadi teringat ketika saya masih duduk di bangku SD dulu, ibu guru selalu mengingatkan kami untuk melakukan perbuatan yang terpuji. Apa sih arti perbuatan terpuji itu? kurang lebih artinya adalah perbuatan yang baik, yang bermanfaat untuk diri sendiri dan (terutama) untuk orang lain. Lalu, kenapa disebut "terpuji"? Saya rasa ini ada hubungannya dengan ganjaran/upah dari perbuatan baik itu sendiri, yaitu ada orang-orang lain yang melihat/merasakan perbuatan baik itu, lalu bereaksi dengan cara "memuji" si pelaku perbuatan itu.

Kembali ke soal puji-memuji, saya juga termasuk orang yang senang mendapat pujian. Beberapa hari yang lalu ada dua orang sahabat saya (kami sama-sama bersekolah di SMU RP Bogor) yang memberikan pujian atas tulisan-tulisan saya di blog ini. Menurut mereka, tulisan-tulisan di blog ini sifatnya praktis, sederhana dan inspiratif (itulah yang kira-kira ditulis oleh mereka di wall FB saya). Wah, senang sekali rasanya dipuji seperti itu! (Thank you, Eric and Nadia!). "Ngga nyangka, ada yang menyukai tulisan-tulisan gw!" kata saya dalam hati.

Tapi tunggu dulu! Jangan puji saya lagi! Tiba-tiba saya menyadari sesuatu yang amat penting, sekaligus berbahaya! Apa itu? Saya sadar kalau ego saya ternyata perlahan-lahan mulai mengambil alih perasaan saya. Akibatnya, saya mulai sombong! nge-sok! Belagu! Ini tidak boleh dibiarkan terus!

Pujian yang diberikan oleh orang lain (sebagai ganjaran/upah) dari perbuatan baik kita seharusnya menjadi pendorong kita untuk melanjutkan (bahkan meningkatkan) kualitas dan kuantitas karya kita. Masalahnya terletak pada ego kita. Ego-lah yang sering membuat kita terbuai dalam pujian dan akhirnya malah menghentikan daya kreatif kita untuk menghasilkan karya-karya selanjutnya. 

Dalam kasus saya, ego sayalah yang mulai menunjukkan tanda-tanda akan bermasalah (baca: gejala sombong, dll) karena mendapatkan pujian dari kedua orang sahabat saya itu. Saya rasa, dengan tidak mengurangi rasa terima kasih saya kepada kedua sahabat saya itu, lebih baik pujian itu diberikan kepada DIA yang menciptakan saya, yang memberikan saya kemampuan untuk menulis. Saya hanya manusia biasa yang cenderung sombong apabila mendapat pujian; jadi, tolong, jangan puji saya!

Kamis, 23 September 2010

Baru saja selesai didoakan...

Penahkah kita berdoa kepada Tuhan untuk memohon sesuatu hal dan jawabannya langsung kita dapatkan? Kalau jawabannya sesuai dengan permohonan kita, pasti kita merasa amat senang (dan mudah-mudahan kita tidak lupa untuk juga segera berterima kasih kepada Tuhan atas hal itu). Akan tetapi, pernahkah ketika kita juga berdoa memohon sesuatu (dan jawabannya juga segera kita dapatkan) tapi jawabannya ternyata berbanding terbalik 180 derajat dari yang kita mohonkan? Bagaimana perasaan kita?

Kejadian itu baru saja saya alami kemarin malam. Seperti biasa, sebelum kami semua beranjak tidur, saya dan beberapa anggota keluarga kami mengadakan doa malam bersama. Kami telah menyiapkan satu ruangan di lantai atas sebagai tempat kami berdoa. 

Sebelum salah seorang dari kami memimpin doa, masing-masing dari kami mengungkapkan pokok-pokok doa yang ingin didoakan, baik itu untuk diri sendiri, maupun doa untuk orang lain. Ketika semua orang sudah mengungkapkan pokok doanya, mulailah pemimpin doa mendoakan pokok-pokok doa itu. Kami pun mengikuti dan mendukung doa itu di dalam hati.


Ketika semua pokok doa kami sudah didoakan, ternyata pemimpin doa kami itu menambahkan satu pokok doa lagi: isinya mendoakan rumah tangga kedua saudara kami yang memang tinggal serumah dengan kami (tapi tidak sedang ikut berdoa dengan kami). Isinya memohon agar rumah tangga mereka selalu dilimpahi damai sejahtera Tuhan dan mereka diberkati Tuhan dalam pekerjaannya.


Alangkah terkejutnya kami, ketika pemimpin doa mengucapkan kata: "Amin!", terdengar suara dari bawah, yang meskipun tidak keras, tapi kami semua bisa membuat gambarnya di dalam pikiran kami: kedua saudara kami itu sedang bertengkar! Kami tidak tahu persis apa yang sedang mereka pertengkarkan, tapi yang jelas, kami mendengar salah seorang dari mereka masuk ke dalam kamar, meninggalkan pasangannya, dan langsung mengunci pintu.

Saya melihat wajah-wajah yang tampak kecewa dengan apa yang terjadi: baru saja kami mendoakan mereka supaya rumah tangga mereka diberkati dalam damai sejahtera Tuhan, tapi tidak sampai sedetik kami selesai berdoa, kami mendapati kenyataan bahwa mereka sedang bertengkar. Di tengah-tengah suasana yang sempat mencekam itu (karena kami semua serempak tidak bersuara selama beberapa saat lamanya), saya mengajak agar yang lain tidak larut dalam kekecewaan, dan tetap yakin bahwa Tuhan sedang dan terus bekerja mendatangkan damai sejahtera-Nya atas rumah tangga kedua saudara kami itu.


Dalam perenungan saya akan peristiwa semalam itu, saya menemukan kalau Tuhan adalah Allah yang berdaulat penuh atas kehidupan kita, dan kita tidak perlu meragukan betapa Ia sangat mengasihi kita, meskipun jawaban doa kita ternyata berbeda 180 derajat dari yang kita harapkan. Saya juga tahu dan yakin bahwa dalam keadaan apa pun dalam hidup kita, Tuhan yang berdaulat itu sedang dan terus mengajar kita untuk tetap setia (percaya) dan berdoa kepada-Nya.

Selasa, 21 September 2010

Setelah libur panjang: memulai kembali...

Liburan panjang sudah selesai, dan sekarang waktunya untuk kebanyakan orang memulai kembali rutinitasnya: belajar, bekerja, dll. Setelah beberapa waktu lamanya kita tidak melakukan kegiatan yang biasa kita lakukan sehari-hari, tentu kita butuh semacam "pemanasan" sebelum kita bisa mencapai kinerja kita seperti waktu sebelum liburan. Setiap orang pun punya gaya/cara masing-masing dalam rangka "pemanasan" itu, tapi bagi saya pribadi, caranya hanya 1: LAKUKAN!

Sebagai contoh, setelah terbiasa tidur lebih malam di waktu liburan dan bisa bangun lebih siang keesokan harinya, cara saya agar bisa kembali kepada pola bangun pagi (untuk persiapan berangkat kerja) adalah memasang alaram handphone dan (lakukan) BANGUN! 

Contoh lain, setelah cukup lama tidak menulis di blog ini selama liburan (sampai-sampai salah seorang saudara saya bertanya: "Kayaknya udah lama kau ngga nulis di blog lagi ya?"), maka cara saya agar bisa kembali aktif menulis adalah (seperti yang sedang saya lakukan saat ini:) TULIS!

Membiasakan diri untuk berdisiplin dalam segala hal yang kita lakukan memang mempunyai banyak tantangan. Rasa malas, bosan, atau jenuh sering kali seperti menjadi jalan mendaki yang melelahkan untuk kita tempuh. Akan tetapi, disiplin lebih banyak memberikan kita manfaat apabila kita melakukannya. Nah, berhubung libur panjang sudah selesai dan the show must go on, mari kita mulai kembali segala aktivitas keseharian kita dengan disiplin: LAKUKAN!

Minggu, 22 Agustus 2010

Bahkan si munafik pun Ikut Bernyanyi di Gereja

"Ya ampun!", mataku pun terbelalak melihat pemandangan di depanku. "Bukankah orang itu beberapa hari yang lalu secara terang-terangan sudah menunjukkan sikapnya yang merendahkan kami?", "Sekarang ia ikut berdiri di deretan paling depan para penyanyi paduan suara yang sebentar lagi akan bernyanyi itu." "Sungguh munafik!", teriakku dalam hati sambil terus kupandangi sosok orang itu dari jauh (karena kebetulan aku duduk agak di samping belakang pada ibadah Minggu itu).

Sesaat lamanya pikiranku dipenuhi dengan rasa kaget, sekaligus marah dan gemas. "Kenapa orang seperti ini KAU biarkan ikut bernyanyi lagu-lagu pujian untuk-Mu, Tuhan? Tidakkah KAU tahu apa yang baru saja diperbuat orang itu kepada kami?" Tidak lama kemudian mulai terdengarlah lagu yang dinaikkan oleh paduan suara itu. Dengan bersusah payah (karena sedang kesal) kucoba untuk memusatkan perhatianku mendengar lirik lagu itu. Tidak semua lirik dapat kutangkap, tapi paling tidak sedikit banyak aku tahu tentang apa lagu itu: "kasih setia Tuhan."  

"Bagaimana mungkin orang itu dapat menyanyikan lagu tentang kasih setia Tuhan kalau ia sendiri tidak memberlakukan kasih itu kepada sesamanya?", kulanjutkan lamunanku. "Kok bisa-bisanya orang yang berhati jahat itu mengucapkan bait demi bait lagu pujian dengan bibirnya untuk Tuhan?" "Ah, tidak benar ini!", aku pun merasa sangat gusar mengikuti kelanjutan jalannya ibadah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, sembari masih memikirkan kejadian di gereja tadi, tiba-tiba aku menyadari sesuatu yang mengejutkan! Seakan-akan ada satu suara yang berbisik di dalam benakku yang akhirnya membuka kesadaranku: BUKANKAH TERKADANG AKU JUGA SUKA BERBUAT DEMIKIAN?

Astaga! Tiba-tiba saja perasaan marah dan gemasku hilang seketika. Langkahku melambat karena lututku terasa sedikit lemas. Kenapa aku protes kepada Tuhan tentang orang yang menurutku berhati jahat tapi masih bisa bernyanyi pujian tentang-Nya, sementara terkadang pun aku suka berada di posisinya? Bukankah terkadang aku juga datang ke rumah Tuhan, memuji-muji nama-Nya, tapi hatiku sendiri masih dipenuhi dengan berbagai macam kejahatan? Bukankah itu namanya aku juga "bermuka dua" di hadapan-Nya? Aku toh tidak lebih baik daripada orang itu! Aku toh tidak lebih suci hatinya daripada orang itu! Kebenaran ini pun seakan "menampar" mukaku!

Sembari berjalan tertunduk, kunaikkan doa ini kepada Tuhan: "Maafkan aku, Tuhan, karena aku sudah merasa lebih baik, lebih benar untuk datang ke rumah-Mu dan memuji nama-Mu. Sebagaimana Engkau mengizinkan semua orang, entah baik ataupun jahat orang itu, untuk datang ke rumah-Mu, ajarku untuk mengoreksi hatiku agar aku tidak lekas menghakimi orang lain sebelum kuhakimi terlebih dulu hatiku."

Jumat, 20 Agustus 2010

Kok lemas? percaya kan? sabar ya!

Manusia pada umumnya akan bereaksi sesuai dengan yang dirasakannya. Biasanya kita akan menggebu-gebu semangatnya kalau sedang mengharapkan sesuatu yang baik menurut kita. Dan (biasanya juga) kita akan terlihat tidak bersemangat kalau ternyata kenyataan yang terjadi itu tidak sesuai harapan kita. 

Itulah yang saya alami pagi ini. Dalam suatu urusan, secara tidak sengaja saya memperlihatkan raut dan bahasa tubuh yang tidak bersemangat. Dan itu "tertangkap" mata oleh rekan saya. "Kok lemas?" kata rekan saya itu mengejutkan saya. Ternyata ekspresi saya cukup jelas terlihat olehnya. Saya pun menjawabnya, "Iyalah, habis hasilnya ga sesuai harapan." Rekan saya itu pun hanya tersenyum mendengar jawaban saya.

Saya pun merenungkan arti senyum saudara saya itu. Pikiran saya kembali ke malam kemarin. Kemarin saya dikunjungi oleh tiga orang saudara saya. Dalam percakapan, kami membicarakan urusan saya esok harinya (pagi ini). Salah seorang saudara saya berkata kurang lebih seperti ini: "Sabar saja. Kalau kita tulus hati dan bersandar pada kasih setia Tuhan, maka meskipun jalan yang kita lalui sepertinya tidak sesuai dengan harapan kita saat ini, tapi kita akan segera menemui keadilan Tuhan pada akhir perjalanan kita!" 

Kembali pada senyum saudara saya di pagi ini ketika ia melihat ekspresi saya yang agak lemas, saya seperti diingatkan oleh Tuhan sendiri yang sambil tersenyum seakan berkata pada saya, "Kok lemas? percaya kan? sabar ya!" Wah, seketika itu juga hilang lemas saya, ganti dengan semangat yang baru! Senyum lagi ah! 

Rabu, 18 Agustus 2010

Kenal...tegur? Lengos aja...

Di mana-mana kalau orang sudah kenal, maka sewajarnya kalau bertemu akan saling bertegur sapa. Akan tetapi kejadian hari ini membuktikan kebalikannya: sudah kenal, bertemu, tapi (me)lengos aja...Lucu memang, tapi selidik punya selidik, ternyata alasannya hanya gara-gara UANG!

Hmm....bicara soal "uang" memang tidak ada habisnya. Sebagian orang berkata kalau uang hanyalah alat manusia untuk mencapai tujuan hidup yang lebih luhur dan mulia; tapi kenyataannya ternyata banyak juga orang yang secara sadar/tidak sadar sudah diperalat oleh uang dalam hidupnya. Orang-orang pada bagian ini sering tidak sadar bahwa mereka sudah menjadikan uang sebagai tujuan hidupnya; akibatnya, banyak hal yang lebih penting dan luhur yang menjadi korban, seperti misalnya: hubungan kekerabatan!

Coba bayangkan adegan yang terekam di kepala saya hari ini: kedua orang ini sudah saling mengenal sejak tahunan yang lalu. Lalu karena suatu kejadian baru-baru ini yang melibatkan "uang", maka kedua orang ini secara sadar/tidak sadar sudah mengorbankan hubungan kekerabatan mereka selama ini. Dalam satu kesempatan saling berpapasan, maka kedua orang ini sepakat untuk saling membuang jauh-jauh pandangan mereka! Boro-boro menegur, bertatap mata saja tidak. Dan semua itu karena "uang." Jadilah rumus matematika yang buruk ini: Uang = kenal...tegur? Lengos aja...



Senin, 16 Agustus 2010

Ditolong untuk menolong (lagi)

Dalam hidup ini tentu kita pernah merasakan saat-saat di mana kita membutuhkan pertolongan, bukan? Dan tentu ketika kita mendapat mendapat pertolongan itu, kita merasa senang dan lega karena beban kita (paling tidak) berkurang atau bahkan tidak ada lagi. Lalu apa yang kita lakukan setelah kita mendapat pertolongan itu? Berterima kasih sepertinya sudah sewajarnya kita ungkapkan kepada sang penolong kita. Cukupkah sampai di situ? Dalam beberapa kasus ya; tapi tidak demikian dengan yang saya alami kemarin malam.

Semalam itu saya merasa badan saya kurang enak. Kepala rasanya berat untuk diangkat, sementara perut terasa kembung. Saya juga merasa sedikit mual. Akhirnya sekitar pukul 8 saya memutuskan untuk merebahkan badan dan memejamkan mata. Saya memang tidak berencana untuk terlelap sampai pagi, karena saya belum menyiapkan keperluan saya untuk bekerja keesokan harinya. Jadilah mata saya terpejam untuk beberapa saat lamanya, kurang lebih sekitar 1 jam. Saya terbangun ketika pintu kamar saya diketuk ternyata saudara saya meminta waktu saya untuk berbicara dengannya.

Saya pikir, "Wah, ada apa nih? Sepertinya yang mau dibicarakan itu serius." Setelah saya mencuci muka, saya menemuinya di ruang tengah. Benar dugaan saya. Saudara saya itu menceritakan masalah yang dihadapinya. Saya pun mendengarkan setiap perkataannya dengan serius. Masalahnya sebenarnya tidak rumit, tapi karena emosi yang sudah bermain maka sepertinya tidak ada jalan keluar yang bisa dicari. Setelah beberapa lama saudara saya bercerita masalahnya, giliran saya memberikan masukan kepadanya. Saya berusaha membantunya untuk memisahkan antara emosi yang sudah bermain dan persoalan yang sebenarnya. 

Waktu terus berjalan, dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Merasa tidak enak karena pembicaraan kami terlalu panjang (saudara saya ini tahu kalau saya sudah harus bangun lagi pukul 4.30 untuk mempersiapkan diri berangkat ke kantor), saudara saya ini meminta maaf dan sekaligus berterima kasih. Sambil tersenyum saya hanya berkata, "Ngga apa-apa. Senang kok bisa membantu!" Saya pun beranjak dari ruang tengah dan kembali ke kamar.

Sebelum kembali tidur (setelah memasang alarm di handphone pukul 4.15--hari Senin itu saya harus lebih awal bangun karena entah mengapa lalu-lintas lebih padat dari hari-hari biasanya), saya baru sadar kalau ternyata badan saya sudah terasa jauh lebih enak! Selama kurang lebih 4 jam kami berbicara tadi itu ternyata saya sudah tidak lagi merasakan kembung dan mual, juga kepala yang (tadinya) terasa berat! Wah, ternyata saya sudah ditolong oleh Tuhan! Jadi, ketika saya menolong saudara saya mengatasi masalahnya, sebenarnya saya sudah terlebih dulu mendapat pertolongan itu! Thank you, God! 

Rupanya Tuhan menolong saya (memulihkan kondisi badan saya yang kurang enak) agar saya bisa menolong lagi (saudara saya dengan masalahnya). Hmm...saya pun membaringkan diri dan memejamkan mata sembari tersenyum puas!  

Jumat, 13 Agustus 2010

Arti hidup: Mengenang Alm. Ecclesia Enelia Idauli Napitupulu

Pernahkah kita mengambil waktu untuk merenungkan apa arti hidup kita? Apakah hidup ini kita pakai untuk keegoisan kita sendiri? Atau sudahkah hidup ini kita pakai untuk memberi dampak bagi orang-orang di sekitar kita? Tulisan ini saya buat sebagai sebentuk tanda cinta melepas kepergian seorang kakak, saudara yang ternyata telah meninggalkan bekas yang amat dalam buat saya.

Adalah seorang Ecclesia Enelia Idauli Napitupulu, biasanya saya memanggilnya dengan sebutan "Kak Dede." Kak Dede ini orangnya sangat keras dengan pendiriannya. Saya salut dengan kesediaannya untuk menanggung risiko dari pilihan-pilihan yang diambil olehnya semasa hidupnya. "Itu kan hidupmu, Ul. Kalau aku jadi kau, aku akan tegaskan prinsip hidupku, sekalipun prinsipku itu harus bertentangan dengan keinginan orangtuaku" Saya ingat sekali komentar kak Dede ini sewaktu dulu pada satu kesempatan saya curhat dengannya tentang masalah saya dengan ibu saya.
Kak Dede juga seorang yang sangat teliti dengan barang-barang miliknya. Pernah satu waktu saya menginap di rumahnya di kompleks perumahan rumah sakit di Tarutung; ketika itu kak Dede masak beberapa potong tempe goreng dan ia meletakkannya di atas piring di atas meja makan. Karena saya lapar, saya ambil sepotong tempe itu tanpa sepengetahuan dia. Eh, ternyata ketika ia kembali meletakkan makanan lain di atas meja makan itu, kak Dede "berteriak": Hei, siapa ini yang makan tempe? Sambil tersenyum malu, saya pun mengaku bersalah kepadanya! =) Luar biasa telitinya kakakku ini!

Yang terakhir tentang kak Dede adalah soal kepeduliannya kepada orang-orang di dekatnya. Meskipun gaya bicaranya ceplas-ceplos dan terkesan cuek, tapi sebenarnya kak Dede adalah seorang yang sangat peduli dengan keadaan orang-orang di dekatnya. "Gimana kabar sidang mama, Ul?", "Inangtua sudah sampai di sanakah?", "Kok sombong kau sekarang ya, ga ada kabar-kabarnya!" "Ada berita apa nih?" Itulah sebagian dari cara kak Dede untuk menunjukkan sebenarnya ia sangat peduli dengan keadaan orang-orang dekatnya. Bahkan di saat dirinya hamil besar sekalipun, kak Dede masih mau naik angkot untuk membesuk ibu saya yang sedang kena masalah waktu itu. Benar-benar ia menunjukkan perhatian dan kepeduliannya!

Rasa sayangnya terhadap Marceleo (kami panggil dia dengan ACEL), putra sulungnya yang berusia 3 tahun tidak usah dipertanyakan lagi. Bagi saya, kak Dede sudah menunjukkan betapa ia adalah seorang ibu yang terbaik untuk Acel. Dalam kondisi yang sulit sekalipun, kak Dede tetap mengurus dan merawat Acel sebaik-baiknya. You are really a great mother, kak!

Sekarang kak Dede sudah tiada. Tuhan sudah menjemputnya dalam usianya yang masih muda (36 tahun). Kami semua sangat berduka atas kepergiannya yang begitu cepat. Apalagi kak Dede telah "menitipkan" anak perempuannya yang baru lahir itu kepada kami: Anabel Tamaro (Tama do Ro; arti: waktu yang tepat datangnya). 

Selamat jalan kakakku tersayang! Kemarin siang aku ikut menghantarkan jasadmu ke tempat pemakaman. Kami semua sangat kehilangan dan merindukanmu. Kami rindu gayamu, keras kepalamu, cara bercandamu, perhatian dan kepedulianmu, sikap telitimu, semua yang sudah kau tunjukkan kepada kami semasa hidupmu. Selamat jalan kak Dede! Tugasmu sudah selesai di dunia ini; singkat saja waktu hidupmu, tapi arti hidupmu sangat besar bagi kami yang dekat denganmu! Kiranya Tuhan Yesus memberimu damai sejahtera yang abadi bersama-Nya di surga!

Dari adikmu yang sangat mengasihimu, 

Paul

Selasa, 10 Agustus 2010

Hukum yang buta pada keadilan: kuasa uang dan kekuatan

Hukum seharusnya berlaku adil dengan menganjar si pelanggar hukum itu. Namun, kenyataannya bisa tidak demikian. Hukum ternyata juga bisa menutup mata dari keadilan apabila hukum itu sudah jatuh kepada kuasa uang dan kekuatan.

Seorang ibu diseret ke meja hijau karena dituduh melakukan penipuan/penggelapan. Ilustrasi kisahnya seperti ini: A mengenalkan B kepada C. Lalu B dan C menjalin hubungan dan mereka pun sepakat menikah. Ternyata, selang beberapa lama kemudian B tidak setia kepada C dan ia pun menghilang entah kemana. Mungkinkah C menuntut biaya ganti rugi pernikahannya kepada A, semata-mata karena A yang telah mengenalkan B (yang ternyata tidak setia itu) kepada dirinya? Coba dijawab sendiri!

Itulah yang terjadi dengan ibu tadi. Ia mengenalkan teman lamanya kepada rekan satu perkumpulannya. Terjadilah kesepakatan bisnis (peminjaman uang) di antara kedua orang itu. Ternyata orang yang meminjam uang itu melarikan diri dari kewajibannya untuk membayar. Bukti peminjaman uang masih ada di tangan si pemberi pinjaman. Di sana jelas tertulis dan tertandatangani bahwa yang meminjam uang adalah orang yang kabur tadi (bukan si ibu yang mengenalkan itu). Seharusnya si pemberi pinjaman melaporkan orang yang kabur itu kepada pihak berwajib, tapi anehnya, ia justru melaporkan si ibu yang mengenalkan orang itu kepadanya atas tuduhan penipuan/penggelapan. Lebih parah lagi, si pemberi pinjaman malah mengumpulkan beberapa orang lain untuk bersaksi (palsu) bahwa ibu yang mengenalkan pertama tadilah yang meminjam uangnya (meski tidak ada satu pun tanda tangan ibu itu di tanda bukti peminjamannya).Dengan kekuatan dana dan koneksinya, mudah bagi si pemberi pinjaman itu untuk menyeret ibu yang mengenalkan pertama itu ke dalam perkara ini. Lalu bagaimana dengan orang yang melarikan uang itu? Tampaknya ia akan aman-aman saja, karena sepertinya tidak ada upaya dari si pemberi pinjaman untuk mengejarnya. Nah, kenapa si pemberi pinjaman tidak mengejarnya? Tidak ada yang tahu sampai saat ini, kecuali si pemberi pinjaman itu sendiri.

Sungguh tragis, karena pada akhirnya saat ini si ibu yang hanya mengenalkan orang yang (ternyata) jahat itu harus berhadapan dengan hukum. Ibu ini sekarang harus menanggung akibat dari perbuatan jahat yang sama sekali tidak ia lakukan. Bagaimana akhirnya? Belum terjawab sampai hari ini (karena persidangan masih berlanjut). Inilah hukum yang sudah buta kepada keadilan!

Minggu, 08 Agustus 2010

Sudah layakkah (kita) datang ke rumah Tuhan?

Kejadiannya pagi ini. Kami sudah siap untuk berangkat beribadah. Hari ini ibadah mengambil tema nuansa daerah Nusa Tenggara Timur. Kami pun mengenakan aksesori syal dengan motif tenun NTT. Seperti biasa, sebelum berangkat kami berdoa, "Tuhan, sebentar lagi kami akan datang ke rumah-Mu. Layakkanlah kami agar boleh datang beribadah. Sertailah kami, Tuhan. Amin." Jam ketika itu menunjukkan pukul 9 lewat 5 menit; artinya, kami masih punya waktu kurang dari 25 menit untuk sampai di gereja. Selesai berdoa, kami bergegas keluar rumah dan berjalan sampai ke simpangan untuk menunggu angkutan umum.

Seperti biasa di setiap hari Minggu, sebagian ruas jalan utama yang menuju gereja ditutup untuk memberi kesempatan kepada para pejalan kaki untuk berolahraga dan bersepeda. Waktunya dari jam 7-9 pagi. Berdasarkan perhitungan bahwa kendaraan pada saat ini (pukul 9 lewat 5 menit) sudah diperbolehkan melalui ruas jalan utama, maka kami berpikir kalau kami masih sempat tiba di gereja sekitar 5 menit sebelum ibadah dimulai. Kami pun memberhentikan satu kendaraan umum yang melintas dan kami naik ke dalamnya.

Perjalanan cukup lancar meski kami harus melewati kawasan terminal yang biasanya cukup menghabiskan waktu (karena banyak angkutan umum yang ngetem untuk mencari penumpang). "Wah, kalau lancar di sini, artinya kita bisa sampai lebih cepat di gereja!" pikirku.

Namun apa yang terjadi? Ketika kendaraan umum yang kami tumpangi mendekati ruas jalan utama menuju gereja, tampak beberapa orang petugas polisi mengalihkan lalu-lintas menuju jalan lain. "Ya ampun! Sudah jam 9.15 kok belum dibuka juga jalannya!" sontak aku berkata begitu. Alhasil arus lalu-lintas dialihkan ke jalan lain, dan itu artinya kami tidak akan bisa sampai tepat waktu!

Dalam antrian kendaraan yang cukup panjang (karena semua arus masih dialihkan ke jalan yang lain ini), kami berdiskusi di dalam kendaraan umum. Akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan kami ke gereja dan memilih untuk kembali ke rumah. "Nanti sore saja kita ke gereja yang ibadah jam 5." Itulah keputusan yang kami sepakati.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku berpikir dalam hati. Bukankah tadi sebelum berangkat kami berdoa, "Layakkanlah kami agar boleh datang beribadah"? Kenyataannya kami "terpaksa" harus kembali ke rumah karena kejadian yang tidak biasanya telah menghambat perjalanan kami untuk beribadah.

"Apakah kejadian ini artinya kami belum layak, belum siap untuk datang beribadah, Tuhan?" itulah yang menjadi pertanyaanku dalam hati. Jangan-jangan kami hanya sibuk mempersiapkan aksesori pakaian kami untuk beribadah, ketimbang kami mempersiapkan hati dan pikiran untuk menghadap-Nya, dan IA memberikan kesempatan kepada kami untuk kembali pulang dan memikirkan kembali kesungguhan dan kesiapan kami untuk beribadah di rumah-Nya. 


 

Jumat, 06 Agustus 2010

Menjadi sahabat untuk orang lain

Apa sih arti kata "sahabat"? Apakah sahabat itu memiliki kedekatan yang lebih dari teman/kawan? Saya tidak tahu jawabannya. Akan tetapi yang saya tahu pasti, hari ini saya bisa merasakan indahnya perasaan ketika kita berada di antara orang-orang yang bersahabat dengan kita.

Pagi ini waktu saya sedang menunggu angkutan bis menuju kantor, secara kebetulan saya bertemu dengan seorang sahabat saya yang lewat di jalan itu dengan kendaraannya. Alhasil saya bisa ikut menumpang sampai ke kantor (kebetulan kantor kami juga sama). Lalu di kantor, entah karena sarapan tadi pagi kurang porsinya, atau karena saya yang semalam kurang tidur, sehingga saya merasa perut saya sedikit "rewel" minta diisi, saya terpikir untuk membeli makanan di kantin kantor. Namun, lagi-lagi saya mengalami "kebaikan sahabat". Sebelum saya melangkah ke kantin, tiba-tiba lagi seorang sahabat saya yang lain di kantor berkata, "Eh, mau donat, ga? Gw bawa dari rumah. Kalau mau ke ruangan gw aja!" Tanpa berpikir dua kali, saya mengatakan, "Mau dong! Kebetulan gw lagi laper nih sekarang! Trims ya!" 

Apakah saya memanfaatkan kebaikan hati kedua orang sahabat saya itu untuk kepentingan saya sendiri? Bisa saja ada yang berpendapat demikian, karena toh saya yang "diuntungkan" dari kebaikan hati kedua sahabat saya itu. Akan tetapi, apa hanya berhenti di situ? Saya hanya mau "untung" sendiri terus? Sepertinya tidak ya. Tentu saya juga mau memberikan kebaikan kepada orang-orang di sekeliling saya, bukan untuk maksud apa-apa, tapi lebih karena saya sudah merasakan lebih dulu indahnya berada di antara orang-orang yang baik hati, yang kita sebut dengan "sahabat" itu!

Kamis, 05 Agustus 2010

Sumpah (palsu): beranikah?

"Kok bisa-bisanya orang itu bilang: Demi nama Tuhan Yesus saya berkata yang sesungguhnya!", itulah pikiran saya sewaktu mendengar kesaksiannya di ruang sidang (Rabu, 4 Agustus 2010). Bukankah cerita yang disampaikannya kepada majelis hakim itu penuh dengan rekayasa dan manipulasi? Belum lagi dengan adegan suara yang terbata-bata dan adegan menyeka air mata yang ditunjukkannya kepada semua yang hadir? Luar biasa! 

Jujur saya katakan kalau saya sendiri pun bukanlah orang yang jujur. Saya sering berkata bohong untuk menutupi kesalahan saya, demi menghindari konsekuensi yang mungkin saya dapatkan dari kesalahan saya itu. Tapi bagaimana kalau kita sampai membawa-bawa nama Tuhan untuk "membenarkan perbuatan salah kita"? Ini yang saya tidak habis pikir. Apakah sumpah itu sudah kehilangan maknanya? Hanya sekadar kata-kata untuk menguatkan pernyataan kita, tanpa ada risiko sama sekali ketika kita menyalahgunakannya? Bagaimana dengan Tuhan yang sudah kita seret dalam kebohongan kita? Apakah DIA tidak akan bertindak dengan kelakuan kita itu?  

Hmm....saya tidak tahu; mungkin saat ini kita aman-aman saja. Mungkin tidak ada yang terjadi dengan diri kita waktu kita bersumpah (palsu) itu. Akan tetapi menurut saya, mungkin lebih baik mulai saat ini kita lebih berhati-hati dalam berkata-kata, karena kita tidak tahu kapankah kita menerima konsekuensi dari setiap perkataan (juga perbuatan) kita!