Pernahkah kita mengambil waktu untuk merenungkan apa arti hidup kita? Apakah hidup ini kita pakai untuk keegoisan kita sendiri? Atau sudahkah hidup ini kita pakai untuk memberi dampak bagi orang-orang di sekitar kita? Tulisan ini saya buat sebagai sebentuk tanda cinta melepas kepergian seorang kakak, saudara yang ternyata telah meninggalkan bekas yang amat dalam buat saya.Adalah seorang Ecclesia Enelia Idauli Napitupulu, biasanya saya memanggilnya dengan sebutan "Kak Dede." Kak Dede ini orangnya sangat keras dengan pendiriannya. Saya salut dengan kesediaannya untuk menanggung risiko dari pilihan-pilihan yang diambil olehnya semasa hidupnya. "Itu kan hidupmu, Ul. Kalau aku jadi kau, aku akan tegaskan prinsip hidupku, sekalipun prinsipku itu harus bertentangan dengan keinginan orangtuaku" Saya ingat sekali komentar kak Dede ini sewaktu dulu pada satu kesempatan saya curhat dengannya tentang masalah saya dengan ibu saya.
Kak Dede juga seorang yang sangat teliti dengan barang-barang miliknya. Pernah satu waktu saya menginap di rumahnya di kompleks perumahan rumah sakit di Tarutung; ketika itu kak Dede masak beberapa potong tempe goreng dan ia meletakkannya di atas piring di atas meja makan. Karena saya lapar, saya ambil sepotong tempe itu tanpa sepengetahuan dia. Eh, ternyata ketika ia kembali meletakkan makanan lain di atas meja makan itu, kak Dede "berteriak": Hei, siapa ini yang makan tempe? Sambil tersenyum malu, saya pun mengaku bersalah kepadanya! =) Luar biasa telitinya kakakku ini!
Yang terakhir tentang kak Dede adalah soal kepeduliannya kepada orang-orang di dekatnya. Meskipun gaya bicaranya ceplas-ceplos dan terkesan cuek, tapi sebenarnya kak Dede adalah seorang yang sangat peduli dengan keadaan orang-orang di dekatnya. "Gimana kabar sidang mama, Ul?", "Inangtua sudah sampai di sanakah?", "Kok sombong kau sekarang ya, ga ada kabar-kabarnya!" "Ada berita apa nih?" Itulah sebagian dari cara kak Dede untuk menunjukkan sebenarnya ia sangat peduli dengan keadaan orang-orang dekatnya. Bahkan di saat dirinya hamil besar sekalipun, kak Dede masih mau naik angkot untuk membesuk ibu saya yang sedang kena masalah waktu itu. Benar-benar ia menunjukkan perhatian dan kepeduliannya!
Rasa sayangnya terhadap Marceleo (kami panggil dia dengan ACEL), putra sulungnya yang berusia 3 tahun tidak usah dipertanyakan lagi. Bagi saya, kak Dede sudah menunjukkan betapa ia adalah seorang ibu yang terbaik untuk Acel. Dalam kondisi yang sulit sekalipun, kak Dede tetap mengurus dan merawat Acel sebaik-baiknya. You are really a great mother, kak!
Sekarang kak Dede sudah tiada. Tuhan sudah menjemputnya dalam usianya yang masih muda (36 tahun). Kami semua sangat berduka atas kepergiannya yang begitu cepat. Apalagi kak Dede telah "menitipkan" anak perempuannya yang baru lahir itu kepada kami: Anabel Tamaro (Tama do Ro; arti: waktu yang tepat datangnya).
Selamat jalan kakakku tersayang! Kemarin siang aku ikut menghantarkan jasadmu ke tempat pemakaman. Kami semua sangat kehilangan dan merindukanmu. Kami rindu gayamu, keras kepalamu, cara bercandamu, perhatian dan kepedulianmu, sikap telitimu, semua yang sudah kau tunjukkan kepada kami semasa hidupmu. Selamat jalan kak Dede! Tugasmu sudah selesai di dunia ini; singkat saja waktu hidupmu, tapi arti hidupmu sangat besar bagi kami yang dekat denganmu! Kiranya Tuhan Yesus memberimu damai sejahtera yang abadi bersama-Nya di surga!
Dari adikmu yang sangat mengasihimu,
Paul
Tidak ada komentar:
Posting Komentar