"Kok bisa-bisanya orang itu bilang: Demi nama Tuhan Yesus saya berkata yang sesungguhnya!", itulah pikiran saya sewaktu mendengar kesaksiannya di ruang sidang (Rabu, 4 Agustus 2010). Bukankah cerita yang disampaikannya kepada majelis hakim itu penuh dengan rekayasa dan manipulasi? Belum lagi dengan adegan suara yang terbata-bata dan adegan menyeka air mata yang ditunjukkannya kepada semua yang hadir? Luar biasa! Jujur saya katakan kalau saya sendiri pun bukanlah orang yang jujur. Saya sering berkata bohong untuk menutupi kesalahan saya, demi menghindari konsekuensi yang mungkin saya dapatkan dari kesalahan saya itu. Tapi bagaimana kalau kita sampai membawa-bawa nama Tuhan untuk "membenarkan perbuatan salah kita"? Ini yang saya tidak habis pikir. Apakah sumpah itu sudah kehilangan maknanya? Hanya sekadar kata-kata untuk menguatkan pernyataan kita, tanpa ada risiko sama sekali ketika kita menyalahgunakannya? Bagaimana dengan Tuhan yang sudah kita seret dalam kebohongan kita? Apakah DIA tidak akan bertindak dengan kelakuan kita itu?
Hmm....saya tidak tahu; mungkin saat ini kita aman-aman saja. Mungkin tidak ada yang terjadi dengan diri kita waktu kita bersumpah (palsu) itu. Akan tetapi menurut saya, mungkin lebih baik mulai saat ini kita lebih berhati-hati dalam berkata-kata, karena kita tidak tahu kapankah kita menerima konsekuensi dari setiap perkataan (juga perbuatan) kita!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar