Dalam hidup ini tentu kita pernah merasakan saat-saat di mana kita membutuhkan pertolongan, bukan? Dan tentu ketika kita mendapat mendapat pertolongan itu, kita merasa senang dan lega karena beban kita (paling tidak) berkurang atau bahkan tidak ada lagi. Lalu apa yang kita lakukan setelah kita mendapat pertolongan itu? Berterima kasih sepertinya sudah sewajarnya kita ungkapkan kepada sang penolong kita. Cukupkah sampai di situ? Dalam beberapa kasus ya; tapi tidak demikian dengan yang saya alami kemarin malam.Semalam itu saya merasa badan saya kurang enak. Kepala rasanya berat untuk diangkat, sementara perut terasa kembung. Saya juga merasa sedikit mual. Akhirnya sekitar pukul 8 saya memutuskan untuk merebahkan badan dan memejamkan mata. Saya memang tidak berencana untuk terlelap sampai pagi, karena saya belum menyiapkan keperluan saya untuk bekerja keesokan harinya. Jadilah mata saya terpejam untuk beberapa saat lamanya, kurang lebih sekitar 1 jam. Saya terbangun ketika pintu kamar saya diketuk ternyata saudara saya meminta waktu saya untuk berbicara dengannya.
Saya pikir, "Wah, ada apa nih? Sepertinya yang mau dibicarakan itu serius." Setelah saya mencuci muka, saya menemuinya di ruang tengah. Benar dugaan saya. Saudara saya itu menceritakan masalah yang dihadapinya. Saya pun mendengarkan setiap perkataannya dengan serius. Masalahnya sebenarnya tidak rumit, tapi karena emosi yang sudah bermain maka sepertinya tidak ada jalan keluar yang bisa dicari. Setelah beberapa lama saudara saya bercerita masalahnya, giliran saya memberikan masukan kepadanya. Saya berusaha membantunya untuk memisahkan antara emosi yang sudah bermain dan persoalan yang sebenarnya.
Waktu terus berjalan, dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Merasa tidak enak karena pembicaraan kami terlalu panjang (saudara saya ini tahu kalau saya sudah harus bangun lagi pukul 4.30 untuk mempersiapkan diri berangkat ke kantor), saudara saya ini meminta maaf dan sekaligus berterima kasih. Sambil tersenyum saya hanya berkata, "Ngga apa-apa. Senang kok bisa membantu!" Saya pun beranjak dari ruang tengah dan kembali ke kamar.
Sebelum kembali tidur (setelah memasang alarm di handphone pukul 4.15--hari Senin itu saya harus lebih awal bangun karena entah mengapa lalu-lintas lebih padat dari hari-hari biasanya), saya baru sadar kalau ternyata badan saya sudah terasa jauh lebih enak! Selama kurang lebih 4 jam kami berbicara tadi itu ternyata saya sudah tidak lagi merasakan kembung dan mual, juga kepala yang (tadinya) terasa berat! Wah, ternyata saya sudah ditolong oleh Tuhan! Jadi, ketika saya menolong saudara saya mengatasi masalahnya, sebenarnya saya sudah terlebih dulu mendapat pertolongan itu! Thank you, God!
Rupanya Tuhan menolong saya (memulihkan kondisi badan saya yang kurang enak) agar saya bisa menolong lagi (saudara saya dengan masalahnya). Hmm...saya pun membaringkan diri dan memejamkan mata sembari tersenyum puas!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar