Hai…selamat datang!

Perjalanan hidup setiap manusia di dunia ini tidak pernah sama. Demikian juga halnya dengan bagaimana setiap manusia itu memberi makna atas perjalanan hidupnya. Blog ini merupakan refleksi pribadi atas apa yang saya lihat, dengar, pikirkan, dan alami sehari-hari. Tulisan-tulisan dalam blog ini juga dibuat dengan jujur dan apa adanya. Tujuan dari blog ini semata-mata ingin menunjukkan bahwa hidup ini sungguh mempunyai makna, dan itu tergantung bagaimana kita memaknainya.

Minggu, 22 Agustus 2010

Bahkan si munafik pun Ikut Bernyanyi di Gereja

"Ya ampun!", mataku pun terbelalak melihat pemandangan di depanku. "Bukankah orang itu beberapa hari yang lalu secara terang-terangan sudah menunjukkan sikapnya yang merendahkan kami?", "Sekarang ia ikut berdiri di deretan paling depan para penyanyi paduan suara yang sebentar lagi akan bernyanyi itu." "Sungguh munafik!", teriakku dalam hati sambil terus kupandangi sosok orang itu dari jauh (karena kebetulan aku duduk agak di samping belakang pada ibadah Minggu itu).

Sesaat lamanya pikiranku dipenuhi dengan rasa kaget, sekaligus marah dan gemas. "Kenapa orang seperti ini KAU biarkan ikut bernyanyi lagu-lagu pujian untuk-Mu, Tuhan? Tidakkah KAU tahu apa yang baru saja diperbuat orang itu kepada kami?" Tidak lama kemudian mulai terdengarlah lagu yang dinaikkan oleh paduan suara itu. Dengan bersusah payah (karena sedang kesal) kucoba untuk memusatkan perhatianku mendengar lirik lagu itu. Tidak semua lirik dapat kutangkap, tapi paling tidak sedikit banyak aku tahu tentang apa lagu itu: "kasih setia Tuhan."  

"Bagaimana mungkin orang itu dapat menyanyikan lagu tentang kasih setia Tuhan kalau ia sendiri tidak memberlakukan kasih itu kepada sesamanya?", kulanjutkan lamunanku. "Kok bisa-bisanya orang yang berhati jahat itu mengucapkan bait demi bait lagu pujian dengan bibirnya untuk Tuhan?" "Ah, tidak benar ini!", aku pun merasa sangat gusar mengikuti kelanjutan jalannya ibadah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, sembari masih memikirkan kejadian di gereja tadi, tiba-tiba aku menyadari sesuatu yang mengejutkan! Seakan-akan ada satu suara yang berbisik di dalam benakku yang akhirnya membuka kesadaranku: BUKANKAH TERKADANG AKU JUGA SUKA BERBUAT DEMIKIAN?

Astaga! Tiba-tiba saja perasaan marah dan gemasku hilang seketika. Langkahku melambat karena lututku terasa sedikit lemas. Kenapa aku protes kepada Tuhan tentang orang yang menurutku berhati jahat tapi masih bisa bernyanyi pujian tentang-Nya, sementara terkadang pun aku suka berada di posisinya? Bukankah terkadang aku juga datang ke rumah Tuhan, memuji-muji nama-Nya, tapi hatiku sendiri masih dipenuhi dengan berbagai macam kejahatan? Bukankah itu namanya aku juga "bermuka dua" di hadapan-Nya? Aku toh tidak lebih baik daripada orang itu! Aku toh tidak lebih suci hatinya daripada orang itu! Kebenaran ini pun seakan "menampar" mukaku!

Sembari berjalan tertunduk, kunaikkan doa ini kepada Tuhan: "Maafkan aku, Tuhan, karena aku sudah merasa lebih baik, lebih benar untuk datang ke rumah-Mu dan memuji nama-Mu. Sebagaimana Engkau mengizinkan semua orang, entah baik ataupun jahat orang itu, untuk datang ke rumah-Mu, ajarku untuk mengoreksi hatiku agar aku tidak lekas menghakimi orang lain sebelum kuhakimi terlebih dulu hatiku."

1 komentar: