Hai…selamat datang!

Perjalanan hidup setiap manusia di dunia ini tidak pernah sama. Demikian juga halnya dengan bagaimana setiap manusia itu memberi makna atas perjalanan hidupnya. Blog ini merupakan refleksi pribadi atas apa yang saya lihat, dengar, pikirkan, dan alami sehari-hari. Tulisan-tulisan dalam blog ini juga dibuat dengan jujur dan apa adanya. Tujuan dari blog ini semata-mata ingin menunjukkan bahwa hidup ini sungguh mempunyai makna, dan itu tergantung bagaimana kita memaknainya.

Kamis, 25 November 2010

Ternyata (masih) belum waktunya (lanjutan 2 x 24 jam)

Tulisan ini seharusnya kubuat hari Kamis (18/11) yang lalu, tapi karena satu dan lain hal, aku belum sempat membuatnya. Baiklah sekarang kuceritakan kejadian yang kami alami di hari Kamis, tepat satu minggu yang lalu, di ruang sidang Pengadilan Negeri di kotaku...

Hari itu seharusnya adalah hari yang memberikan kejelasan tentang perjalanan sidang perkara hukum yang dihadapi oleh bundaku, karena sudah dijadwalkan sejak dua minggu sebelumnya bahwa majelis hakim akan membacakan keputusan/vonis mereka terhadap perkara itu.Sejak malam sebelumnya, kami sekeluarga sudah mempersiapkan hati (baca: mental) untuk mendengarkan keputusan hakim. Kami pun menyerahkan hasil keputusan itu di dalam doa (aku juga berterima kasih kepada seluruh saudara dan sahabatku yang ikut mendukung kami di dalam doa!)

Namun, keesokan harinya kami mendapati jawaban Tuhan atas doa kami semalam itu: ternyata (masih) belum waktunya! Ketika kami sampai di pengadilan, kami mendapat kabar dari penasihat hukum bunda kalau keputusan hakim akan diundur! "Waduh, kenapa lagi, ini? Kenapa harus diperpanjang lagi keputusannya?!" gerutuku dalam hati. 

"Apa alasan pengunduran ini?" tanyaku kepada penasihat hukum bunda. Jawaban yang kudengar menurutku kurang masuk akal, karena, menurut penasihat hukum bunda, alasan majelis hakim mengundur keputusan mereka di hari itu karena ketua pengadilan negeri jatuh sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Itu sebabnya semua sidang di hari itu diundur ke waktu yang akan ditentukan kemudian. Demikianlah kami semua pulang dari kantor pengadilan negeri itu setelah mendengar bahwa keputusan majelis hakim akan dibacakan pada tanggal 1 Desember yang akan datang.


Dalam perjalanan pulang, aku merenungkan apa yang telah kami alami di hari itu. Tuhan sudah menjawab doa kami semua, dan jawaban-Nya adalah "tunggu" waktu-Nya. Meskipun aku merasa dongkol dengan keputusan majelis hakim, tapi aku seperti diingatkan kalau semua ini pada akhirnya merupakan keputusan dari Tuhan sendiri! Waktu Tuhan itu pasti lebih tepat bagi kami. Dan justru itulah alasannya kalau kami harus bersukacita. Bersukacita di dalam pengharapan akan hari yang ditentukan-Nya!
 

1 komentar:

  1. Mohon dukungan doa dari rekan2 dan para sahabatku!

    BalasHapus